"Kuntum Khaira Ummatin Ukhrijat Linnas"


Kamis, 31 Desember 2015

Izzati Generasi-21: Cerita, Cita, dan Cinta (bagian akhir)

Sabtu, 12 Desember 2015, kami semua masih disibukkan dengan persiapan pertanggungjawaban. Ada yang merapikan form levelisasi, ada yang menyusun slide presentasi LPJ, ada yang masih merevisi SOP, ada yang merapikan arsip LPJ, dan ada pula yang menyiapkan operasional untuk esok hari. Ya, malam itu begitu sibuk hingga tidak terasa jam sudah menunjukkan waktu dini hari...Waktnya untuk beristirahat. Tapi rasanya masih belum saatnya untuk memejamkan mata.

Masih di sini,
Tentang lutut yang harus terlipat,
Menyangga berat penuh dosa,
Mengharapkan segala ampunan

Allah,
Jika Izzati ini karena-Mu,
Atau dari kami ke pangkuan-Mu,
Maka menangkan kami dalam kesederhanaan,
Saat takbir menggemakan agung-Mu

Hari itu, Ahad, 13 Desember 2015, bertempat di Ruang D101, dilaksanakan kegiatan Suksesi Izzati. Selain sebagai sarana untuk pelaporan pertanggungjawaban, di akhir acara akan dilaksanakan pula pemilihan Mas’ul Izzati yang baru. Acara dimulai dengan sesi sambutan lalu dilanjutkan dengan laporan pertanggungjawaban departemen. Departemen pertama yang mempresentasikan laporan pertanggungjawaban adalah departemen DKM. Lalu bergantian satu persatu mempresentasikan laporannya. Hingga tibalah departemen terakhir yaitu Departemen Public Relation.

Di sela-sela itu saya terlempar pada memori perjalanan satu tahun kebelakang, ruangan ini adalah ruangan yang sama dengan ruangan saat saya terpilih dulu. Dulu, ya ketika malam itu nama saya yang dipilih, pertanyaan yang selalu melekat adalah apakah saya mampu menjaga niat, menjaga cita dan menjaga keistiqomahan. Setahun bisa menjadi waktu yang sebentar, tapi bisa juga menjadi waktu yang sangat lama. Jika ini hanya perihal waktu, saya tahu saya bisa menunggu. Namun barangkali, ini lebih dari itu. Mungkin ini adalah persoalan keyakinan. Sebab katanya, Tuhan hanya memberi sesuatu jika kita telah betul-betul siap memilikinya. Meyakini hal-hal yang semu memang tak mudah. Dan hari ini adalah saksi dari ratusan hari perjalanan hati menjaga semangat dan impian itu. Seperti lilin yang saya jaga dari angin dengan kedua telapak tangan, maka seperti itu juga saya jaga raut cinta dan impian agar tetap bersemayam di telaga mata. Untuk menumbuhkan itu pada diri saya mungkin bukan perkara yang sulit. Tetapi mengajak 104 orang yang lain untuk bisa merasakan hal yang sama, disitulah tantangannya. Di perjalanan, sangat terasa betapa harus tertatih-tatihnya kami menjaga cinta dan impian itu.

Sekitar pukul 14.45 adalah presentasi terakhir dari seluruh departemen. Tersisa yang belum adalah presentasi terakhir dari mas’ul dan sekum. Sebenarnya saya berharap, bisa segera menyelesaikan semuanya sebelum ashar tiba. Saat itu entah kenapa perasaan semakin bercampur aduk, saya khawatir jika ditunda hingga ba’da ashar akan semakin tak karuan. Ya, tapi moderator saat itu memutuskan untuk acara di break terlebih dahulu. Baiklah masih ada waktu untuk menenangkan diri. Di perjalanan dari R. D101 hingga Mesjid Baitul Ilmi, dalam sembunyi saya berdoa,

“Allah, semoga kepengurusan ini berakhir dengan “khusnul khotimah”, semoga semua bahagia Ya Allah, tidak perlu ada air mata yang mengalir Ya Allah..”

Kami pun bergegas mengambil air wudhu....Basuhan demi basuhan....Sangat kami nikmati kesegarannya.

Sembari menunggu kawan-kawan yang lain, saya menunaikan shalat tahiyatul masjid. Belum selesai membaca surah Al-Fatihah, tanpa terasa setetes, dua tetes, tiga tetes air mata mengalir dari pelupuk mata saya, Hingga di sujud pertama saya lampiaskan seluruhnya....hingga basah seluruh sajadah..

“Allah, ampuni saya yang belum bisa menjadi pemimpin yang baik, belum bisa menjadi saudara yang baik, Allah ampuni saya atas hak-hak terhadap saudara yang belum sepenuhnya saya tunaikan, atas kedzhaliman yang seringkali dilakukan. Allah maafkan atas niat yang kurang bening, ikhtiar yang kurang maksimal, serta doa yang kurang tulus”

Romantisme yang jarang sekali dirasakan. Lalu kembali teringat dengan pesan saat kecil: Aku anak laki-laki, tidak boleh menangis, kata Ibu.

Kemudian iqomah shalat ashar pun dikumandangkan. Kami pun shalat ashar berjamaah. Ditemani oleh rintik gerimis yang turun pada sore itu.

Sesi LPJ pun dilanjutkan kembali. Saya dan Imam maju ke depan, dengan slide powerpoint yang seadanya. Imam Handhika, Sekretaris Umum saya mengawali sesi pertanggungjawaban terakhir ini dengan memperkenalkan diri kami dan memperkenalkan selayang pandang mengenai visi misi Izzati. Setelah itu barulah giliran saya menyampaikan seluruh pencapaian Izzati Gen-21.

Alhamdulillah berkat kerja keras seluruh pengurus dan dukungan dari seluruh elemen fakultas teknik, tahun ini terdapat beberapa pencapaian yang dapat kita hasilkan, meski demikian masih banyak pula pekerjaan rumah yang perlu kita selesaikan.

Tidak lupa di akhir sesi saya menyampaikan kesan-kesan saya selama di Izzati, dan mengucapkan terimakasih kepada seluruh pengurus yang telah bekerja keras dan berjuang bersama selama satu tahun kepengurusan ini.

Suasana yang tadinya menegangkan, kini berubah menjadi sedikit melankolis, Saya yang saat itu menyampaikan dengan suara yang cukup keras, mendapat respon yang terbalik, Ya.. 4 kawan saya saat itu menetes air matanya. Entah kalimat atau gambar yang mana yang membuat sore itu menjadi sangat mengharukan.

Mengapakah  dirimu menangis?
Meskipun diriku tak sedang menangis?
Kesedihan dan kepahitan yang kaurasapun terasa sangat menyedihkan bagiku
Hari buruk pun asal kita bersama
Akan jadi kenangan yang berharga untukku

Setelah selesai sesi terakhir, tibalah saatnya pada penilaian LPJ secara keseluruhan. Kami para pengurus harian diperintahkan untuk keluar terlebih dahulu. Menunggu memang perkara yang menjenuhkan, terlebih menunggu penilaian LPJ. Beberapa dari kami ada yang berbincang-bincang santai, ada yang makan-makanan ringan, ada juga yang ber-selfie ria. Ya kelak akan sangat sulit bisa menemukan momen-momen kumpul seperti ini.

Penilaian selesai, kami para pengurus harian, dipersilahkan masuk kembali. Mas Kurmadiyono saat itu menyampaikan seluruh rekomendasinya terlebih dahulu. Sebelum akhirnya memutuskan untuk menerima laporan pertanggungjawaban, Alhamdulillah, kami mendapatkan nilai 85,05.

Alhamdulillah tugas kami di Izzati selesai. Saat itu kami saling berpelukan satu sama lain, ikhwan dengan ikhwan, akhwat dengan akhwat.

Di akhir pertanggungjawaban kami,
Kami saling berpelukan satu sama lain,
Berpelukan lebih lama dan hangat sekali rasanya,
Ada dingin yang mencari,
Ada cinta yang terbahasakan lewat beberapa patah kata dan doa.

Yang menarik adalah semuanya terjadi di pelataran jingga senja. Di sana selalu ada haru, kadang duka, suka, atau apapun yang selalu penuh cinta.

Terimakasih kepada seluruh pengurus Izzati Generasi 21. Terimakasih atas segala cerita, cita, dan cinta yang telah dilukis selama satu tahun ini.



Hidup kita saling bertaut, bersinggungan. Bisa jadi kehadiran kita adalah jawaban atas do'a-do'a sahabat kita, sebagaimana mereka pun adalah jawaban atas do'a-do'a kita. Jika sudah menjadi takdir Allah, meski dengan jarak beribu-ribu kilometer kita tetap akan dipertemukan, dalam satu ikatan bernama ukhuwah.




hari-hari saat aku bersamamu sahabat 
telah lama waktu yang kita lewati bersama
kusadari masa itu masa-masa terindah
dalam sukaku dalam dukaku 
engkau selalu ada

sahabatku tercinta terimalah laguku 
hadirmu selalu memberi bahagia 


Dalam Hadits disebutkan :
Di sekitar Arsy Allah ada menara-menara dari cahaya, didalamnya terdapat orang-orang yang pakaiannya dari cahaya, wajah-wajah mereka bercahaya, mereka bukan Nabi atau pun Syuhada. Para Nabi dan syuhada iri kepada mereka. Ketika ditanya para sahabat, ?Siapakah mereka itu ya Rasulullah?? Lalu Rasulullah menjawab, ?Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah, saling bersahabat karena Allah, dan saling berkunjung karena Allah.
(HR. Tirmidzi)


Semoga kita adalah golongan orang-orang yang dicemburui oleh para Nabi dan Syuhada. Semoga ukhuwah kita yang terjalin dilandasi oleh kasih sayang dan saling mencintai karena Allah, Aamiin Allahumma Aamiin.


Pada bagian akhir suatu cerita
Kita hanya mengharap bersama
Bahwa surga adalah tempat kita bertemu selanjutnya.

  

Diselesaikan di Tasikmalaya 1 Januari 2016

Salam Cinta,


Adam Raka Ekasara

Selasa, 29 Desember 2015

Izzati Generasi-21: Cerita, Cita, dan Cinta (bagian 3)

Jika tak ada yang dikorbankan, maka itu bukan perjuangan. Jika tanpa hambatan, maka itu bukan tantangan. Jika tanpa kelelahan, maka itu bukan kesungguhan. Jika masih ada iman, maka semua itu adalah suatu kenikmatan

Izzati bagi saya tidak sekedar lembaga mahasiswa biasa. Saya selalu menganggap bahwa Izzati memiliki tiga peran: 1. Izzati sebagai lembaga dakwah; 2. Izzati sebagai perusahaaan; dan 3. Izzati sebagai laboratorium.

Izzati sebagai lembaga dakwah, memiliki peran untuk menjalankan fungsi syiar dan kaderisasi. Fungsi syiar untuk menanamkan dan menginternalisasi nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan fakultas teknik. Fungsi kaderisasi untuk membentuk karakter mahasiswa yang syumul dan kaffah, harapannya setelah lulus sebagai mahasiswa, bisa melanjutkan nilai-nilai islam yang diperoleh serta senantiasa berafiliasi dengan islam.

Izzati sebagai perusahaan, berarti Izzati menjalankan seluruh kegiatan operasional melalui manajemen yang profesional. Segala operasional memiliki standar mutu yang jelas. Kemudian segala kebijakan harus berpedoman kepada minimal empat tujuan: pelanggan, proses bisnis internal, pembelajaran serta pertumbuhan, juga finansial.

Pelanggan harus dinyatakan dengan jelas siapa pelanggan dan segmen pasar yang diputuskan untuk dimasuki. Dalam hal ini beberapa segmen Izzati diantaranya adalah mahasiswa, dosen, dekanat, takmir, dll. Kemudian diidentifikasi berbagai tujuan proses bisnis internal. Proses ini meliputi proses inovasi, proses operasi dan proses pelayanan purna jual. Selanjutnya adalah tujuan pembelajaran dan pertumbuhan adalah tujuan yang akan memberikan alasan logis terhadap adanya kebutuhan investasi. Semua investasi seperti sumber daya manusia, sistem, dan prosedur akan menghasilkan inovasi dan perbaikan nyata pada tiga tujuan lain yang pada akhirnya dipakai untuk mencapai tujuan organisasi. Sementara tujuan finansial meski bukan tujuan utama bagi organisasi non-profit seperti Izzati, tetap merupakan bagian penting untuk memastikan bahwa seluruh operasional dapat dikerjakan dengan baik.

Sebagai perusahaan, Izzati memiliki 12 anak perusahaan yang tersebar di 12 jurusan. Anak perusahaan ini tidak memiliki tanggung jawab terhadap Izzati, mereka memiliki otonomi sendiri, sehingga memiliki kebebasan dalam bergerak. Meskipun demikian Izzati tetap memiliki tanggung jawab untuk mengakselerasi mutu dari seluruh anak perusahaan agar terus meningkat kualitasnya.

Izzati sebagai laboratorium berarti Izzati dibangun untuk menjadi tempat belajar yang menyenangkan, serta menjadi tempat yang nyaman dalam hal melakukan eksperimen-eksperimen kebaikan.  Di awal kepengurusan saya selalu menanamkan kepada seluruh Pengurus Harian, bahwa hal pertama yang harus dilakukan adalah belajar. Seluruh PH saya wajibkan untuk memahami buku-buku wajib kedakwahkampusan juga seluruh dokumen yang memiliki topik yang relevan dengan bidang yang digeluti. Silaturahim dengan tokoh-tokoh maupun senior dakwah kampus juga sangat dianjurkan. Meskipun beberapa PH mungkin memiliki background yang linear dengan jabatan yang diemban, tetapi proses belajar yang baik di awal akan semakin memperkuat basic yang dimiliki.   ‘

Dengan basic yang kuat, sense dalam memandang peluang dan masalah akan semakin mudah.
Darisana proses berpikir ilmiah juga akan semakin mudah diterapkan. Segala kebijakan yang diterapkan sebisa mungkin harus melalui proses berpikir ilmiah yang matang. Meski pada akhirnya banyak sekali ide-ide “gila” yang muncul di satu tahun kepengurusan ini, itu semata-mata adalah bentuk eksperimen penyelesaian dari hal-hal yang dianggap sebagai “masalah” maupun bentuk eksperimen tanggapan dari hal-hal yang dianggap sebagai “peluang”.  

Ya banyak sekali ide dan harapan gila yang mungkin unlogic yang muncul mulai dari ingin membuat buku panduan, ingin membuat satu event bersama dengan seluruh LDJ, ingin membuat memasukan mentoring dalam kurikulum, ingin membuat kuliah intensif departemen, ingin memiliki bisnis multimedia yang sarananya lebih lengkap, ingin di-study banding-kan oleh banyak rohis, dan masih banyak lagi cita-cita gila yang lainnya.

Sesuatu yang belum dikerjakan, seringkali tampak mustahil. Kita baru yakin kalau kita telah berhasil melakukannya dengan baik.

Dari kegilaan itulah Izzati hidup, meskipun pada akhirnya harus susah payah kita mencapainya. Semua butuh waktu, butuh proses, butuh keringat, bahkan mungkin perlu bercucuran air mata dulu untuk bisa menyelesaikan semuanya.

Ada proses yang tak bisa dilangkahi, tak bisa dipercepat. Waktu dan kesabaran itulah kuncinya. Waktu membuat pasti, kesabaran memperteguh kita yang menunggu...

Sekitar sebulan pertama kepengurusan, tampak sekali bahwa manajemen dan keberjalanan organisasi masih dirasa kurang maksimal. Banyak sekali deadline yang molor dan juga miss comunication di sana-sini. Hal ini yang akhirnya membuat saya harus turun juga untuk mengatasi internal.

Jika kemenangan dakwah hanya dilandasi atas iman saja, atau amal shalih saja. Maka niscaya para pejuang Uhud lebih layak menang daripada kita.

Tapi lihatlah mereka kalah hanya karena persoalan teknis. Rasulullah mengintruksikan bahwa pasukan yang ada di puncak bukit tidak boleh turun sebelum diperintahkan. Sungguh, bukan dikarenakan suatu ketamakan para pejuang di atas bukit uhud itu turun, tapi karena mereka menganggap bahwa perang sudah selesai, dan kaum muslimin sudah menang, lalu kemudian mereka berbondong-bondong turun, tetapi mungkin mereka lupa dengan satu intruksi penting dari Rasulullah, ya hanya karena satu persoalan teknis mengakibatkan keadaan menjadi berbalik.

Iman dan amal shalih yang kuat itu adalah hal yang wajib dimiliki oleh seluruh aktivis dakwah. Tapi itu saja tidak cukup, kita kadang-kadang kalah disebabkan oleh kurangnya penguasaan dalam keterampilan-keterampilan teknis, juga sangat lemah dalam hal-hal yang berhubungan kedisiplinan.

Betapa sering perjalanan hidup kita terhenti. Bahkan oleh hal-hal yang tidak terlalu serius. Betapa banyak orang berhenti dari mengejar cita-cita, kehendak mulia, mimpi-mimpi fantastis dalam capaian prestasi, hanya lantaran keteledoran, hanya karena ulah menyimpang yang mulanya hanya iseng-iseng belaka, atau mental “nanti dulu”, atau sikap “sebentar dulu”. Akhirnya lama-kelamaan jiwanya mulai layu, semangatnya mulai redup. Gairah berkaryanya semakin kering. Akhirnya ia pun terhenti dari segala harapan yang telah menanti diujung kerja kerasnya...

Maka saat itu ada 3 kebijakan paling “kontroversial” yang diputuskan:

  1.  Adanya pengecekan amal yaumiah dengan standar yang ditetapkan di setiap harinya. Seluruh PH wajib melaporkan yaumiahnya (Ini hanya berjalan di semester awal saja). Amal yaumiah ini sangat penting karena dia juga akan berbanding lurus dengan kebeningan hati kita dan kemudahan Allah dalam memberikan hidayah kepada kita.                                                                                                                                                                                                            Bening hati adalah indah, kita akan merasakannya saat senyum mengembang tanpa paksaan. Saat wajah teduh menumbuh keramahan. Saat kaki melangkah begitu ringan. Saat tangan dengan cekatan menolong siapa pun yang membutuhkan..
  2. Adanya sistem pelaporan rutin seminggu 3x. Hal yang dilaporkan meliputi Hal yang sudah dilaksanakan 2-3 hari ke belakang, Kendala yang dihadapi, dan rencana kegiatan yang akan dilaksanakan di 2-3 hari berikutnya. Dua pelaporan dilaksanakan melalui syuro cluster online, satu lagi dilaksanakan saat syuro rutin (syuro rutin pada perjalanannya dibuat tematik)
  3. Kedisiplinan dimulai dari hal yang kecil, yaitu kedisiplinan dalam kehadiran syuro PH. Kami telah menetapkan bahwa syuro dilaksanakan setiap pukul 6.00 pagi. Aturannya adalah setiap keterlambatan kehadiran syuro tanpa izin yang jelas akan dikenakan denda Rp. 1000,- untuk setiap detik keterlambatan


3 kebijakan ini adalah 3 kebijakan paling “keras” yang akhirnya sama-sama disepakati. Alhamdulillah atas izin Allah, meskipun awalnya berat tapi ada perkembangan yang sangat signifikan yang dapat dirasakan.

Memasuki tahap-tahap akhir semester genap. Suasana organisasi kembali masuk pada fase tidak stabil, selain karena beberapa PH mengajukan izin untuk melaksanakan KP dan KKN Tematik yang kebanyakan mengambil waktu saat aktif akademik. Ada juga 5 orang pengurus yang mengajukan permohonan pengunduran diri. 5 permohonan dengan 5 alasan berbeda diantaranya ada yang hasil akademik semesternya kurang memuaskan sehingga ingin fokus akademik, ada yang merasa tidak maksimal karena multiamanah di 4 organisasi, ada yang tidak ingin mendzhalimi kawan-kawan izzati karena nanti akan banyak disibukkan dengan beban penelitian yang cukup berat, ada yang melihat kondisi keluarga sehingga ingin fokus mencari penghasilan tambahan, dan ada juga yang merasa belum maksimal dalam memberikan ilmu kepada staff. Ditambah lagi dengan kondisi ekonomi saya yang memasuki fase yang sangat berat pasca KKL dan pemetaan geologi Bayat pada saat itu. Ya, bagi saya fase ini adalah fase paling berat yang pernah saya rasakan saat menjabat Ketua Izzati.

Seorang Mukmin mengerti apa arti sebuah kesulitan. Tidak saja dari sudut bagaimana mengatasinya. Tapi juga bagaimana memahami keberadaan strategisnya. Sebagai ketetapan Allah, sebagai keniscayaan sejarah, sebagai ujian, sebagai tangga menuju penghargaan kualitas diri, juga sebagai siklus pergantian masa yang pasti terjadi dalam hidup.

Orang beriman selalu punya caranya sendiri untuk menata hatinya. Saat mendapat musibah, air matanya menetes.. tapi hatinya terilhami untuk meyakini bahwa apa yg diberikan Allah swt pasti yg terbaik baginya.. Fisiknya mungkin lelah, pikirannya mungkin penat, tapi tidak dengan hatinya yg terus yakin bila ia diuji Allah swt, itu adalah tanda bahwa Allah swt sayang padanya.

Alhamdulillah setelah memasrahkan semuanya kepada Allah, tiba-tiba rasanya semua pintu terbuka. Alhamdulillah saat itu tawaran job kepada saya untuk mengajar semakin banyak, dan ada juga rezeki-rezeki lain dari arah yang tidak disangka-sangka tiba-tiba berdatangan pula.

Untuk Izzati saya langsung bergerak cepat. Saya memastikan semua lini, tetap dapat berjalan secara operasional meski beberapa PH mengajukan “cuti”. Mulai saat itu pula saya pun memiliki program one day min one person, artinya bersilaturahim kepada minimal satu orang staff/PH berbeda di setiap harinya. Untuk sekedar say hallo dan menanyakan kabar. Untuk beberapa person yang mengajukan permohonan pengunduran diri, saya langsung berkoordinasi dengan pihak-pihak tertentu untuk menyusun strategi penyelamatan. Saat itu pulalah kami harus mengerahkan seluruh jurus hipnotis yang kami miliki, dan saya menyadari pula bahwa sebaik-baik hipnotis adalah doa. Ya doa adalah senjata orang beriman.
Ya Allah, permudahlah setiap masalah yg sedang menimpa saudara-saudaraku,, atau jika tidak, pertebal keimanan mereka agar mereka bisa merasakan indahnya Sabar.. Sehingga bisa menyelesaikan masalah-masalahnya dengan cara yg Engkau sukai.. Aamiin...

Jiwa manusia sering lalai dan lemah, maka perlu sering diingatkan agar bisa selalu kuat. Diingatkan dengan do’a, diingatkan dengan tepukan di bahu, diingatkan dengan senyuman yg tulus, dan juga tentu, diingatkan dengan nasihat yang menyejukkan hati…

Saat aku merasa tak mampu memberikan perhatian padamu,
aku yakin Allah mampu.
Saat aku merasa tak mampu lagi membantumu bertahan,
aku yakin Allah mampu.
Saat aku merasa tak mampu menjadi tempatmu berkeluh kesah, aku yakin Allah mampu.

Ya Rabb, satu pintaku, saat aku sudah tak mampu lagi menggenggam erat tangan saudaraku, jangan biarkan ia lepas dari genggaman Mu.

Alhamdulillah atas izin Allah satu per satu kawan saya yang mengundurkan diri, bisa berkumpul kembali. Alhamdulillah, semakin hari, Izzati semakin bisa dikendalikan lagi pasca fase tidak stabil. Di semester genap pula saya menambahkan satu orang baru untuk mengemban amanah sebagai koordinator tim litbang (sebelumnya jabatan ini dirangkap dengan litbang syiar-pr)

Hari-hari pun berlalu dan akhir masa kepengurusan pun sudah didepan mata, maka kesibukan dalam hal evaluasi sistem kelembagaan dan persiapan generasi baru pun mulai menyergap.

Sesungguhnya jika cerita bulan Oktober-Desember ini dituangkan dalam tulisan tentu diperlukan puluhan hingga ratusan halaman untuk menjelaskannya. Bulan-bulan yang di setiap harinya penuh dengan strategi, Alhamdulillah Allah memudahkan kami untuk melewatinya.

Kisahnya sederhana, perasaannya yang rumit.

Maka tibalah kita pada satu minggu terakhir kepengurusan. Hari minggu, 6 Desember 2015 adalah event terakhir yang diadakan oleh Izzati, puncak sekolah Izzati, yang di dalamnya terdapat pemilihan calon mas’ul generasi 22. Saya selalu hadir pada sesi ini di tiga tahun terakhir, sesi pemilihan calon tahun ini adalah sesi terlama yang pernah saya rasakan. Dibutuhkan waktu sekitar 4 jam hanya untuk memilih bakal calon yang akan dimajukan. Saya masih ingat bahwa hari itu cuaca sedang hujan deras, ya, hujan membuat suasana lebih romantis dari biasanya. Lalu terpilihlah tiga calon mas’ul diantaranya Taqiyuddin Ja’far, Ulin Nuha, dan Tubagus Naufal Dzaki.

Tidak ingin mengulang kejadian yang sama mengenai betapa sempitnya waktu yang bisa digunakan untuk menyusun grand design Izzati juga lemahnya transfer ilmu yang diberikan maka pada tahun ini ada ide gila baru yang diadakan untuk memfasilitasi proses belajar dari calon mas’ul yaitu dengan mengadakan karantina, sekolah mas’ul izzati, diadakan intensif selama 7 malam. Siang hari para calon diwajibkan untuk mengambil data mengenai analisis kondisi departemen, malam hari sekitar pukul 21.30-00.30 digunakan untuk diskusi pengolahan data yang diambil di siang hari lalu dilanjutkan diskusi mengenai pengembangan organisasi. Pagi hari sekitar pukul 04.00-06.00, setelah agenda shubuh berjamaah para calon mengikuti agenda pagi Al-Fath, dilanjutkan dengan muraja’ah. Ya begitulah di setiap harinya. Hingga pernah pada suatu hari, mereka hanya mendapatkan analisis kondisi dari satu departemen saja, menyadari bahwa waktu yang dimiliki sangat sempit, akhirnya mereka memohon izin untuk melaksanakan silmi di tengah malam, ya saya ingat saat itu pukul 22.30 mereka siap hujan-hujanan untuk mendapatkan data dan informasi. Hingga akhirnya mereka baru kembali di pukul 01.00. H-1 sebelum dialog terbuka dilaksanakan adalah momen yang paling berkesan dimana setelah menyelesaikan diskusi malam sekitar pukul 01.30, mereka harus lembur untuk menyempurnakan visi misi untuk dialog besok. Sungguh luar biasa totalitas dari 3 calon mas’ul Izzati tahun ini.

Meskipun sudah memasuki minggu terakhir yang sudah tidak ada lagi kegiatan di dalamnya, boleh diakui bahwa ini adalah minggu paling hectic yang pernah kami rasakan, selain menyiapkan seluruh dokumen pertanggungjawaban, melengkapi nilai KPI departemen, menyusun SWOT departemen untuk diolah oleh calon mas’ul, kami juga harus menuntaskan seluruh konten panduan izzati. Panduan Izzati berisi gabungan panduan gerak dari seluruh elemen izzati, mulai dari sekretaris, bendahara, litbang dan seluruh departemen.

Untuk sampai pada draft panduan resmi, setiap elemen harus melewati serangkaian proses. Pertama ada penyusunan konten daftar isi yang selanjutnya akan diaudit oleh seluruh PH. Setelah disetujui memasuki tahapan selanjutnya yaitu tahap penulisan yang nantinya akan melalui audit internal yang diadakan oleh litbang di setiap cluster. Hasil audit internal mengharuskan adanya revisi pada bagian-bagian tertentu. Setelah mengalami perbaikan, barulah dokumen diaudit oleh pihak eksternal yang terdiri dari masing-masing 2 orang ahli yang seusai dengan spesialisasinya. Biasanya pada tahapan inilah banyak sekali revisi yang harus dilakukan, termasuk banyak pula masukan mengenai konten isi yang perlu ditambahkan. Nah, setelah proses revisi dari audit eksternal selesai maka panduan departmen dinyatakan resmi selesai. Panduan-panduan setiap elemen kemudian digabungkan menjadi satu hingga tersusunlah buku panduan Izzati. Buku Panduan Izzati ini baru terkumpul soft nya pada hari-H suksesi, hingga selesai melalui proses penjilidan ketika ba’da ashar.



Selain dari kesibukan pengurus Izzati, di minggu terakhir seluruh alumnus TR3 yang kemudian disebut sebagai Tim Riset Rohis FT, juga mengalami kesibukan yang sama. Di minggu terakhir ini mereka juga harus menyelesaikan format indikator dan parameter untuk levelisasi rohis jurusan. Alhamdulillah, tepat sebelum ashar tiba pada H-1 Suksesi Izzati, dokumen ini berhasil diselesaikan.




Diselesaikan di Tasikmalaya 29 Desember 2015

~Adam R. E~ 



Senin, 28 Desember 2015

Izzati Generasi-21: Cerita, Cita, dan Cinta (bagian 2)


Mari kita mulai!

Ya Allah, jadikanlah permulaan hari ini suatu kebaikan dan pertengahannya suatu kemenangan serta penghabisannya suatu kejayaan, wahai Tuhan Yg Paling Penyayang di antara para penyayang

Disebabkan oleh Izzati ini adalah lembaga terakhir untuk angkatan 2012, maka kami bertekad untuk menggarap lembaga ini dengan serius. Di organisasi kemahasiswaan di Undip memang jarang sekali ditemukan adanya lembaga yang memiliki visi jangka panjang. Padahal hal itu sangat penting, hasil perenungan saya kebanyakan dari ormawa kita hanya mandeg di situ-situ saja yang pada akhirnya hanya copy-paste program kerja, meskipun beberapa memiliki tambahan inovasi, tapi kebanyakan dari kita gagal memahami bahwa adanya organisasi itu karena ada tujuan. Tujuan dari lembaga dituangkan oleh pemimpinnya dalam sebuah Visi. Di awal penyusunan visi ketika menjadi calon mas’ul saya sering mengajukan pertanyaan random kepada beberapa pegiat kampus yang berada di level bottom to middle mengenai apa Visi lembaganya. Kebanyakan dari responden tidak mampu menyebutkan visi lembaga nya secara lengkap, lebih dari itu bahkan gagal menjelaskan inti dari visi lembaganya. Ini baru visi, belum lagi jika ditanyakan apa misinya.

Khusus untuk beberapa level top manager ormawa, saya menanyakan tentang makna visi & misi, penjabaran layanan dari misi yang sudah dibuat dan sasaran strategis apa yang diharapkan dari visi & misi tersebut.
Sesungguhnya pertanyaan ini akan saya gunakan sebagai bahan pembelajaran saya dalam menyusun visi & misi Izzati, namun ternyata hanya sedikit saja yang menjawab secara memuaskan, bahkan diantaranya menjawab tidak sesuai konteks.Meskipun sebelumnya saya juga pernah memimpin dua organisasi, tapi saya merasa pemahaman saya terkait visi misi & tujuan organisasi masih nol besar.

Ketika di SMA saya pernah menjadi Ketua OSIS (jumlah pengurus 52 orang), disana saya banyak belajar mengenai bagaimana mengelola event organizer secara profesional, ya pada saat itu orientasi baik buruknya sebuah lembaga hanya berdasar pada bagaimana kesuksesannya dalam menyelenggarakan kegiatan, ya sesederhana itu, namun di balik itu saya pun belajar pula mengenai manajemen administrasi, manajemen keuangan makro, manajemen kedisiplinan, juga strategi dalam mengelola stress.

Lanjut ke Universitas sebenarnya saya sudah meniatkan diri untuk bisa menjadi pengurus himpunan atau pengurus BEM. Namun karena masih dalam proses kaderisasi maka keinginan untuk mengikuti BEM saya urungkan. Ketika sudah membulatkan diri mendaftar sebagai pengurus himpunan, qadarullah hasil seleksi menyatakan bahwa saya tidak diterima J . Akhirnya saya memutuskan memilih Rohis sebagai tempat berlabuh. Agar saya dapat memperkuat jaringan, akhirnya saya mendaftar dua lembaga yaitu Rohis Jurusan T. Geologi (RNA) dan Rohis Fakultas Teknik (Izzati).

Meskipun masuknya saya di Rohis ini penuh dengan ketidakniatan, di tahun berikutnya saya malah mendapatkan jabatan sebagai Ketua di Rohis Jurusan, ya Rohis Nurul Ardhi. Di RNA (47 orang) saya belajar “memimpin dalam krisis”, di tengah segala keterbatasan, entah terbatas SDM, dana, energi, ide bahkan keterbatasan dalam segi kepercayaan. Dari RNA saya belajar mengenai pentingnya sebuah visi itu dihadirkan dan dinternalisasi oleh seluruh pengurus. Meskipun pada akhirnya visi saya setahun itu tidak neko-neko, adalah menjadikan lembaga ini “tetap hidup”, ya itu saja, tidak lagi berpikir mengenai pengembangan organisasi. Dari RNA saya juga belajar mengenai sense of crisis . 

Prawita Mutia pernah mengatakan  

ada yang lebih bencana daripada keadaan yang carut-marut, berantakan tak keruan, serta tak terkendali–yaitu manusia-manusia yang kehilangan sense of crisis, yang merasa bahwa segalanya berjalan baik-baik saja padahal mereka sedang dalam bahaya, di mana keadaan sedang tidak hanya penting, tetapi juga genting.
karena orang yang mengalami belum tentu peka dan benar-benar menyadari apa yang terjadi. orang yang peka dan benar-benar menyadari apa yang terjadi belum tentu peduli. orang yang peduli belum tentu mengusahakan perubahan. orang yang mengusahakan perubahan belum tentu membuat dampak nyata. orang yang membuat dampak nyata belum tentu terus-menerus berhasil melakukannya.
kalau sebagian besar dari kita saja kehilangan kepekaan, seberapa banyak yang mungkin berhasil membuat dampak nyata yang terus-menerus?
selalu ada yang berjalan tidak baik-baik saja di sekitar kita. kalau semua berjalan baik-baik saja, kitalah yang tidak baik-baik saja–yang mulai tumpul sense of crisis-nya.

Pelajaran di RNA mengenai pentingnya visi dan sense of crisis, meskipun hanya dua, itu saja sudah sangat berharga bagi saya.

Dari pengalaman itu maka ada keinginan dari saya pribadi di kelembagaan yang terakhir ini, bisa mengelola keorganisasian sebagaimana mestinya, dan lebih dari itu bisa menaikan branding Rohis di masyarakat kampus, dan jauh lebih dari itu ingin semakin menginternalisasi nilai islam yang melangit menjadi sesuatu yang membumi.

Maka dalam pertimbangan awal penyusunan kalimat, visi Izzati gen-21 harus mampu melangit dan harus mampu pula membumi. Melangit berarti mengandung cita-cita luhur; Membumi berarti visi itu dapat diterima oleh khalayak dan mudah dipahami, mudah diinternalisasi.

Sukses adalah kualitas yang dicapai dengan 2 ujung. Ujung atas adalah kepala yang memikirkan arah perjalanan, ujung bawah adalah kaki yang tetap melangkah ke arah itu. Dan pertajamlah ujung-ujung itu dengan do'a.

Visi yang luhur jelas tidak bisa diraih hanya dalam waktu satu tahun, maka disusunlah visi jangka panjang. Meskipun ada visi jangka panjang, tentu saja harus ada pencapaian yang bisa diperoleh dalam waktu satu tahun kepengurusan, maka disusunlah visi jangka pendek. Selang diantara itu harapannya terus ada perkembangan dan peningkatan sehingga visi jangka panjang bisa dicapai.


Visi Jangka Panjang
Ø  Menjadi model Rohis Teknik tingkat Nasional tahun 2020

Visi 2015
Ø  Menjadi lembaga dakwah fakultas teknik yang dekat dan bersahabat,

Dekat adalah input pelayanan yang mengakar dan output kebermanfaatan yang dapat dirasakan oleh seluruh elemen fakultas Teknik

Bersahabat  adalah karakter organisasi yang meliputi paradigma bersikap, iklim internal, serta kultur komunikasi dengan pihak eksternal

Maka timbulah pertanyaan selanjutnya, yaitu bagaimana menanamkan visi ini kepada seluruh anggota? Kemudian bagaimana agar visi & misi bisa relevan dengan layanan yang disajikan?

Timbul juga persoalan ketika setelah PH terbentuk, beberapa PH meminta penjelasan mengenai arahan kerja untuk departemennya. Saya teringat ketika itu orang pertama yang meminta adalah Kepala Departemen HRD saya. Hal-hal yang telah saya susun pada saat itu baru analisis kondisi organisasi, visi, misi dan sasaran strategis. Belum terpikir sama sekali mengenai bagaimana arahan kerja untuk setiap elemen. Akhirnya saya pun memberikan “arahan kerja” HRD dalam bentuk paragraf panjang 3-4 halaman M.Word hasil dari pengolahan data-data yang saya miliki.

Yang kedua saya diundang makan oleh litbang hrd-bpmai, ketua dan sekretaris bpmai, sekaligus meminta disampaikan arahan kerja tahun ini, Maka saya pun kembali melakukan hal yang sama, namun bedanya untuk kali ini disampaikan oral. Begitupun dengan departemen syiar. Meskipun hanya sekedarnya

Di dua organisasi sebelumnya biasanya saya memang belum pernah melakukan ini, jadi program kerja departemen memang disusun memang dari program yang sudah ada sebelumnya, kemudian kalau ada dipoles dengan beberapa tambahan inovasi sekedarnya.

Dari sana kemudian saya belajar bahwa penyampaian arahan kerja adalah hal yang penting untuk semua bidang, dan saya merasa bahwa penyampaian arahan untuk tiga bidang kemarin pun masih alakadarnya, belum runtut dan komprehensif. Maka beberapa hari kami menyusun arahan kerja, sebisa mungkin harus bersesuaian dengan visi dan misi yang kami sudah ditetapkan. Alhamdulillah, sebelum dialog terbuka seluruh data-data yang mendukung perencanaan sudah terkumpul dan sasaran-sasaran strategis telah ditetapkan sehingga penyusunan arahan kerja menjadi lebih mudah, dan saya juga bersyukur karena memiliki tim yang hebat, para pemikir yang dapat menerjemahkan ide-ide langit menjadi sesuatu yang sistemik dan membumi. Mereka adalah sekum dan 4 litbang saya. Entah merupakan pemborosan waktu atau bukan, yang pasti penyusunan arahan kerja ini membutuhkan waktu kumulatif hingga kurang lebih 12 jam pembahasan tatap muka. Ya kami memang ingin membuat perencanaan yang matang untuk hasil yang lebih maksimal. Kami hanya bisa memaksimalkan ikhtiar yang kami bisa, untuk hasil biar kehendak Allah saja yang menentukan.

“Saya tidak bangga dengan keberhasilan yang tidak saya rencanakan, sebagaimana saya tidak akan menyesal atas kegagalan yang terjadi di ujung segala usaha maksimal.”
Harun Ar Rasyid (Khalifah Bani Abbasiyah, 786-803)

Setelah dokumen arahan kerja telah disusun pada syuro terakhir yang lamanya 6 jam, hari itu juga pada pukul 13.00, untuk pertama kalinya, 22 pengurus harian Izzati Gen-21 meeting dengan anggota lengkap. Acara berlangsung di Gedung PKM FT. Pokok bahasannya adalah membedah draft arahan kerja Izzati 2015, jumlahnya 15 halaman, berisi kondisi umum organisasi, visi, misi dan 58 arahan kerja seluruh elemen.

Kita akan sering menyapa masa depan yang ada di jauh sana, kita yakin masa depan kita akan lebih baik dan indah jika kita bersama
Semakin yakin diri kita maka akan semakin kuat tekad kita untuk mewujudkan imajinasi ini.

Sesungguhnya hari ini adalah satu hari di antara hari-hari Allah, tidak pantas diisi dengan kebanggaan dan kesombongan atau keangkuhan. Ikhlaskanlah amalmu dan tujulah Allah dengan amalmu, karena hari ini menentukan hari-hari yang akan datang.

Kebesaran jiwa, yang lahir dari rasionalitas, realisme dan sangkaan baik kepada Allah, adalah keajaiban yang menciptakan keajaiban. Ketika kehidupan tidak cukup bermurah hati mewujudkan mimpi kita, maka kita hanya menambatkan harapan kepada sumber segala harapan yakni Allah!

Setiap kita adalah Bintang, dan setiap Bintang memiliki Cahayanya sendiri.. Mungkin terang sinar kita berbeda, tetapi sumbernya selalu sama.. Allah Swt.

Terakhir, aku sampaikan kepada sahabat-sahabat PH semua, mulai detik ini kita adalah satu keluarga,saling sayang saat dekat, saling rindu saat jauh, saling menguatkan saat melemah, saling menopang ketika hampir terjatuh, saling mendoakan di tiap sujud-sujud panjang.

Tak perlu merasa malu untuk memegang erat lingkar pinggangku. Aku mungkin saja mengerem mendadak, atau berkecepatan lebih dari batas normal kendaraan roda dua dalam kota. Apapun yang terjadi mari kita nikmati perjalanan kita yang menyenangkan.

Adzan pun berkumandang, kami pun segera bergegas menuju ke tempat peraduan. 


Seperti hujan, dia berbaris-bening, sejuk dan mudah terbentuk, segar dan menyulap segala termekar.




Diselesaikan di Tasikmalaya 28 Desember 2015

~Adam R. E~ 






Minggu, 27 Desember 2015

Izzati Generasi-21: Cerita, Cita, dan Cinta (bagian 1)

Dari terpilih hingga meminang


Malam itu hujan turun lebih deras dari biasanya, saya bersama tiga orang kawan-kawan lain menikmatinya lebih khusyuk dari biasanya, kami menikmatinya sambil berteduh di mushola Teknik Lingkungan. Ya malam itu, 20 Desember 2014 adalah malam pemilihan mas’ul (red: ketua) Izzati, Biro kerohanian islam fakultas Teknik. Lembaga yang memasuki generasi 21, saat itu 21 lebih familiar dengan nama bioskop, sehingga generasi-21 sering diibaratkan sebagai generasi bioskop 3D yang berwarna-warni.

Keputusan untuk hadir saat pemilihan ini memang keputusan yang sangat panjang. Diantara syarat utama yang sulit diusahakan adalah Mas’ul Izzati harus lulus TR3-pelatihan tertinggi dalam jenjang kaderisasi Rohis. Pada tahun 2013 tercatat hanya 8 ikhwan yang lulus, itupun 3 diantaranya adalah angkatan 2011, dan satu diantaranya telah terpilih sebagai Sekum HMM. Meskipun sebenarnya ada pula kader 2013 dari lulusan TR3 tahun 2014 yang bisa mencalonkan juga, tapi itupun secara kuantitas masih sangat sedikit. Ya, alhasil ketika ada mekanisme untuk menentukan siapa calon mas’ul, sesungguhnya sudah bisa ditebak siapa saja orangnya, lihat saja alumni TR3 nya. Di tengah itu saya kembali berpikir mengenai kesiapan secara pribadi beserta seluruh pertimbangan yang ada.

Bagi saya, seorang ketua rohis adalah posisi yang sangat ideal, selain dia harus memiliki kemampuan manajemen keorganisasian yang baik dan pandangan yang visioner, dia juga harus memiliki nilai ruhiyah yang kuat, dapat menjadi teladan bagi seluruh muslim di lingkungannya, karena predikat orang paling sholeh kelak akan melekat padanya. Dan itulah sulitnya, jika variabel pertama yang menjadi patokan, maka jelas saya tidak pantas, karena satu tahun saya menjabat ketua rohis jurusan, tidak banyak pencapaian yang dihasilkan, bahkan mungkin cenderung ada kemunduran. Jika variabel kedua yang menjadi patokan, maka jelas saya mungkin berada di posisi sangat bawah, masih banyak yang secara pribadi lebih sholeh dari saya. Ya dua alasan inilah yang bagi saya sudah cukup untuk tidak maju di pemilihan mas’ul generasi 21 ini, terlepas dari historis bahwa saya juga pernah ikut di pemilihan tahun sebelumnya.

Sungguh terserah Allah Subhana wata’ala, diantara kegelisahan tersebut, semakin banyak kawan-kawan yang menguatkan saya untuk tetap maju. Di kontrakan saya juga kebetulan ada dua orang yang memang memiliki background rohis sehingga mendorong saya untuk maju, sebut saja Irfan Yahya Ikhsanudin, Kadep HRD Izzati-19 dan Kadep Insani 2014, juga Fahmi Akmal Hasani, Ketua Komisariat Fakultas Teknik 2014.

Kita semua digerakkan oleh keadaan. Digerakkan oleh usia yang beranjak naik, digerakan oleh kehidupan yang terus berganti. Meski kita ingin berhenti, alam membuat langkah kaki kita tidak bisa berhenti lama. Hanya sebentar, sejenak.

Ya di sela-sela kontemplasi itu saya baru teringat bahwa saya adalah delegasi LKMM Dasar dari Izzati, dan rasanya saya belum memberikan apa-apa untuk Izzati ini. Baiklah meskipun kelak saya tidak jadi ketua Izzati minimal saya bisa memberikan ide untuk pengembangan Izzati ke depan, jadi intinya saya harus buat rancangan pengembangan Izzati sedetail dan serapi mungkin untuk saya berikan kepada mas’ul terpilih. Adapun nanti pas hari-H pemilihan saya bisa mangkir agar tidak terpilih.

Pasca itulah saya memutuskan untuk membuat riset yang serius tentang Izzati, bersama M. Arif Widyoadi saya memutuskan untuk berkeliling ke setiap Kadep untuk meminta bahan SWOT dan rekomendasi untuk kepengurusan berikutnya. Ya selain itu saya juga melahap seluruh buku dan dokumen tentang manajemen kedakwahkampusan maupun ilmu manajemen secara umum. Ya keputusan saya sudah bulat, untuk bisa fokus akademik di tahun berikutnya, untuk itu saya harus mempersembahkan model perencanaan lembaga terbaik untuk Izzati. Selalu terkenang ketika saya bersama Mas Irfan harus hujan-hujanan di jam 23.00 malam pergi ke kontrakan Mas Kurmadiyono dan baru pulang sekitar jam 1 pagi hanya untuk mencari data untuk riset saya. Syukran Mas Irfan..Atas pengorbanan mengantar saya.

Dua malam sebelum dialog itu tiba, saya terpaksa lembur, untuk menyusun sintesis dan pengolahan data hasil dari riset kecil-kecilan saya. Ya ini terakhir. Persembahan terbaik sebelum benar-benar purna dari rohis.

Alhamdulillah dokumen perencanaan selesai. Saatnya mencari cara untuk bisa mangkir dari pemilihan. Kebetulan hari H dialog ada presentasi tugas akhir untuk praktikum mikropaleontologi, ini sudah cukup menjadi sebuah alasan untuk tidak datang. Tapi plan ini kemudian gagal karena panitia menjemput saya ke kampus dan kebetulan presentasi dari kelompok saya sudah selesai. Baiklah hadir saja, tak apa, itung-itung memperkenalkan ide saya kepada calon lain.

Baiklah masuk ke plan kedua, bagaimana agar saya bisa mangkir di hari-H pemilihan. Kalau saya masih ada di Semarang tentu dimanapun akan panitia cari, maka pilihan satu-satunya adalah pulang ke Tasikmalaya.

Menariknya adalah ketika H-1 sore saya sudah siap-siap berkemas untuk pulang di malam harinya. Tiba-tiba ada sms masuk “Jarkom besok minggu akan dilaksanakan praktikum geologi teknik......” Masya Allah, Masya Allah... Entah skenario apa lagi yang Allah berikan kepada saya.

Setelah itu maka saya sudah pasrah, mungkin inilah jalan yang Allah berikan untuk saya, saya pun bertekad untuk menyelesaikan seluruh targetan yaumiah saya dulu sebelum hadir di Suksesi Izzati dan menyempurnakan untuk shalat dua rakaat terlebih dahulu untuk lebih memantapkan hati. Barulah bada ashar saya hadir di suksesi.

Ya malam itu, hujan turun semakin syahdu, kami masih menunggu hasil musyawarah itu selesai, di luar ada juga suara-suara petasan, kawan saya berkata bahwa malam ini bertepatan dengan pengesahan mahasiswa baru untuk jurusan teknik mesin. Semakin lama suasana semakin tak karuan, jantung semakin berdenyut kencang.

Pada segala hal baru yang membuat kita ragu, saya sering berdo'a, "Allah, ajari kami memahami semua ini." Sebab kadang, sebuah peristiwa baru kita sadari hikmah dan rahasia kebaikannya setelah kejadiannya berlalu.

Dan akhirnya musyawarah pun selesai, kami bereempat kembali ke ruangan, semua mata tertuju kepada keempat calon. Semua calon disuruh berbalik ke belakang, menurut instruksi calon terpilih akan disematkan jaket izzati.

Teng teng teng....Akhirnya pengumuman datang, dan tidak disangka ternyata semua calon dipakaikan jaket, dan hanya satu orang yang dipakaikan jaket Izzati

Barakallah wa Innalillahi wa inna ‘ilaihi raajiuun.

Ya Allah, ya Rabbi, jadikanlah Kami seseorang yang berhati suci, bercita-cita luhur, sanggup memerintah diri sendiri sebelum memimpin orang lain, mengejar masa depan tanpa melupakan masa lalu...Ya Allah ajari kami memahami semua ini.. Ya Allah berikanlah kami kekuatan...

Entah kenapa, malam itu rasanya menjadi malam yang sangat panjang bagi saya. Hingga adzan shubuh pun berkumandang lebih merdu dari biasanya.

Berharap semakin terlempar dalam sebuah titik tengah,
Hingga mudah untuk menatap semestinya,
Dalam suatu pagi yang masih dini,
Tawari aku tentang hidangan langit,
Atau sekedar sahur yang begitu merahmat.

Kali ini Shubuh datang dengan sangat sederhana,  sisa-sisa bintang sekedarnya, atau, membanggakan cecahya surya-pun akan sangat di nilai terlalu belia.– Saat itu, aku ingat … embun-pun masih sangat nampak kedinginan –
Tapi, ini pembicaraan kilau-kilau hijau, di tengahnya mengalir sebuah pematang.

Ya shubuh kali itu tidak berbeda dari shubuh-shubuh sebelumnya, bedanya kali ini di pundak saya sedang ada dua amanah berat yang sedang saya emban.

Pada bagian takdir yg tak pernah kita sukai, sejatinya ia tetap menjadi takdir yg telah dicipta-Nya untuk mendidik kita menjadi semakin baik. Suka atau tidak, terpaksa atau rela adalah pilihan. Yg menjadi tolok ukur keimanan dan kualitas diri dihadapan Sang Pemilik Kehidupan...

Bismillah, Insya Allah hari-hari ke depan adalah hari-hari yang penuh tantangan namun menyenangkan.

Hidup sungguh sangat sederhana, kata Pram, yang hebat-hebat hanya tafsirannya.

Oke, tugas pertama sebagai ketua Izzati adalah menyusun team. Dalam hal ini saya dibantu oleh 5 orang tim formatur: Kurmadiyono, Esnahati, Wildan Abdul Jabbar, Asma Muthi’a dan Nisa Farida Amanatullah. Ya merekalah yang membantu saya menyiapkan 22 orang PH Izzati Gen-21.

Syuro Formatur ini tidak akan terlupakan oleh saya.

Jika sudah seperti itu, aku kembali teringat; tentang ke-bambu-anku yang kau bentuk serupa seruling, merdu sekali; katamu. Kau membuatku lupa tentang awal di mana sebelum tunas bermunculan, aku hanya tertidur bersama tanah basah, akibat hujan yang terlalu berkepanjangan.

Syuro pertama formatur direncanakan terlaksana pada pagi hari jam 06.00 di Masjid Kampus. Saya baru berangkat dari Tasik di malam harinya pada pukul 18.30. Saat itu tepat di malam tahun baru, semaraknya masih terasa di sepanjang jalanan Tasik-Semarang. Hingga saat istirahat makan, di restoran juga terdapat pagelaran musik yang ramai sekali. Setelah selesai makan saya bergegas menuju mushola untuk menunaikan shalat. Setelah selesai shalat tiba-tiba terdengar gegap gempita terompet dimana-mana. Pertanda tahun telah bergeser menuju 2015. Saya pun bergegas menuju ke bis kembali. Beberapa menit berlalu saya masih bingung mencari bis saya dimana, atas izin Allah ternyata saya diberikan info bahwa bis yang saya naiki sudah berangkat. Luar biasa...

Bisa saja aku menyalahkan semua kejadian yang aku alami hingga saat ini. Bisa saja aku mempertanyakan mengapa Tuhan mengujiku seperti ini. Memberikanku keadaan yang membuatku susah payah, memberiku keadaan yang membuatku bahkan sulit untuk membuat keputusan.
Dulu, aku meresahkan setiap langkah kaki yang ku buat. Setiap keadaan yang mengelilingiku seolah-olah mengerdilkan pikiranku tentang keadilan-Nya. Aku mempertanyakan sikap-Nya yang seolah-olah pilih kasih. Mengapa aku terus menerus diberikan kegelisahan dan kesedihan bahkan kegagalan, sementara orang lain bisa tertawa lepas diatas kebahagiaannya. Aku terus menerus murung dan sekali lagi mempertanyakan keadilan-Nya.
Dulu, aku merasa aku adalah orang yang paling tidak bahagia. Karena aku tahu, hampir semua yang aku harapkan selalu dipatahkan. Entah dipatahkan oleh keadaan, entah oleh orang lain, atau aku patahkan sendiri karena aku takut untuk membuat pilihan. 

Sekali melangkah pantang menyerah, sekali tampil harus berhasil. Ya ini adalah kalimat yang sering saya tulis ketika diminta tentang motto hidup. Saya pun berpikir bagaimana caranya agar bisa tiba di semarang sebelum jam 6 pagi.

Jalan keluar tak selalu berarti mukjizat, tetapi kemampuan menciptakan alternatif.

Alhamdulillah ternyata masih ada satu bis dengan jurusan dan PO yg sama baru saja datang. Akhirnya saya pun memberanikan diri untuk berkomunikasi dengan kondekturnya, dan atas izin Allah saya diperbolehkan untuk menumpang di bis nya.
 
Biasanya pemberhentian cukup di daerah sukun, namun karena ada barang yang tertinggal di bis sebelumnya, akhirnya destinasi dilanjutkan hingga ke terminal terboyo. Itulah pengalaman pertama saya menginjakan kaki di terboyo.

After that , timbul lagi pertanyaan, bagaimana caranya agar saya bisa on time hadir di syuro formatur. Sesuatu yang baik harus diawali dengan yang baik pula. Dan syuro formatur inilah awal dari segalanya. Jadi wajib banget untuk bisa on-time. Tanpa pikir panjang akhirnya saya mencari ojek. Berangkatlah saya, ojek pertama saya di luar Tasik. Alhamdulillah berkat ojek itu, saya bisa hadir on-time, bahkan sebelum anggota formatur lain hadir.

Syuro formatur pun selesai. 22 nama sudah tercatat. Saatnya menuju proses peminangan. Saat-saat meminang ini adalah saat-saat yang sangat saya nikmati. Ya tentu saja, bayangkan butuh waktu 4 minggu hanya untuk proses peminangan saja. Waktu yang sangat boros bagi ukuran lembaga yang hanya berumur satu tahun kepengurusan.

Di bangku taman ke dua, telah kutitipkan sesuatu untukmu, sebuah surat gundah gulana yang kusemprot dengan minyak awan-awan, agar sedikit putih. Tulislah jawabanmu, di sana juga.

Ada berbagai macam dinamika ketika proses meminang. Ada yang harus berbincang 2 jam terlebih dahulu, ada tipe yang tidak ingin mengangkat telpon-hanya menerima jawaban sms saja, ada yang harus 5 kali tatap muka dulu sebelum akhirnya mengatakan yes, ada pula yang sudah ingin fokus akademik. Ya bermacam-macam.

Kisah ini adalah tentang anak manusia yang melakukan pencarian. Melakukan perjalanan panjang, berliku, penuh dengan pertanyaan. 

Kita tidak pernah akan tahu siapa yang ternyata mencari kita sampai kita bertemu dengan orang tersebut. Kita tidak akan pernah tahu siapa yang ternyata diam-diam mendoakan kita menjadi takdirnya sampai kita bertemu dengan orang tersebut.

Kita semua bergerak melakukan perjalanan dengan cara kita masing-masing, mencari dengan cara kita masing-masing, bertemu dengan caranya masing-masing. Ada yang tidak tahu (si)apa yang sebenarnya ia cari, ada yang tahu persis tentang (si)apa yang ia cari. Ada yang menempuh jalan terang benderang, ada yang harus melewati kegelapan. Meraba-raba dengan tangannya.

Kita mungkin mengeluh mengapa tak kunjung bersatu hingga terasa semua daya telah digunakan, semua cara telah dipakai, semua jalan telah ditempuh. Rasanya berputar-putar pada kondisi yang sama.

Dari berbagai kasus, “perang rebut kader” adalah sesi yang paling menantang. Saat itu beberapa calon PH saya memang dibidik juga oleh lembaga lain. Prinsip saya jika seseorang memang potensial maka dengan cara apapun saya harus bisa meraihnya. Tidak peduli apakah dilirik oleh bem, senat atau lembaga lain. Hajar!

Dan pada akhirnya, saat-saat meminang adalah saat dimana doa harus semakin melangit, berharap Allah menyentuh hati yang bersangkutan untuk dapat bergabung.

Tak boleh hanya berdiam diri. Meski itu sebatas doa. Bukankah doa mampu menggerakkan takdir-Nya?

Alhamdulillah satu bulan yang panjang untuk mencari squad pengurus harian sudah selesai.



Diselesaikan di Tasikmalaya 25 Desember 2015

~Adam R. E~