"Kuntum Khaira Ummatin Ukhrijat Linnas"


Rabu, 01 Februari 2012

Membaca untuk Tasikmalaya, Membaca untuk Indonesia.


Di era abad ke-21 ini dunia dihadapkan kepada suatu sistem besar yang mengubah pola dan sistem kehidupannya. Globalisasi dan perdagangan bebas kini hadir mewarnai kita. Globalisasi berasal dari kata “global” yang maknanya ialah “universal”, jadi globalisasi adalah sebuah proses penduniaan atau peningkatan keterkaitan antar negara sehingga tidak ada lagi sekat atau batas antar negara yang mengakibatkan dunia ini terasa begitu sempit. Dipertegas dengan telah ditandatanganinya perjanjian mengenai perdagangan bebas membuat era ke-21 ini menjadi lebih menarik dari era-era sebelumnya.
Dampak dari pelaksanaan globalisasi adalah sebuah tuntutan kepada setiap negara untuk dapat bersaing memertahankan nama baik negaranya.  Kesalahan di negara kita adalah kegagalan mengupayakan transformasi keilmuan, yang ada sekarang hanyalah hedonisme saja yang muncul dalam masyarakat kita. Peningkatan SDM menjadi suatu keharusan yang seharusnya menjadi motivasi bagi kita semua.
Salah satu komponen yang dapat digunakan untuk melihat kualitas SDM sebuah negara adalah produktivitas warga negaranya dalam membaca, menulis dan berhitung.
Saat ini, minat baca anak Indonesia sudah sangat memprihatinkan. Berdasarkan studi lima tahunan yang dikeluarkan oleh Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) pada tahun 2006, yang melibatkan siswa sekolah dasar (SD), hanya menempatkan Indonesia pada posisi 36 dari 40 negara yang dijadikan sampel penelitian.
Sementara itu, berdasarkan penelitian Human Development Index (HDI) yang dikeluarkan oleh UNDP untuk melek huruf pada 2002 menempatkan Indonesia pada posisi 110 dari 173 negara. Posisi tersebut kemudian turun satu tingkat menjadi 111 di tahun 2009.
Berdasarkan data CSM, yang lebih menyedihkan lagi perbandingan jumlah buku yang dibaca siswa SMA di 13 negara, termasuk Indonesia. Di Amerika Serikat, jumlah buku yang wajib dibaca sebanyak 32 judul buku, Belanda 30 buku, Prancis 30 buku, Jepang 22 buku, Swiss 15 buku, Kanada 13 buku, Rusia 12 buku, Brunei 7 buku, Singapura 6 buku, Thailand 5 buku, dan Indonesia 0 buku.
Kita seharusnya belajar dari negara-negara lain sebut saja Jepang dan Malaysia. Di Jepang ada prinsip teman duduk terbaik adalah buku. Di tempat-tempat umum kebiasan membaca sangat terpelihara, bahkan sepuluh menit sebelum kegiatan belajar mengajar siswa diwajibkan untuk membaca terlebih dahulu. Sejak Restorasi Meiji, Jepang mempunyai tekad mengejar kemajuan kebudayaan barat. Ribuan buku diterjemahkan dari bahasa asing ke bahasa Jepang. Begitu juga produktivitas menulis masyarakatnya perlu diapresiasi, tercatat puluhan juta eksemplar surat kabar terbit setiap hari, ribuan juta eksemplar majalah terbit setiap bulan, dan hampir satu milyar juta eksemplar buku terbit setiap tahun.
Pada tahun 70-an Malaysia mengimpor guru dari Indonesia. Berkat kegigihan dan kesungguhan semua elemen menjadikan Malaysia sebagai negara yang diperhitungkan di dunia bahkan mengalahkan Indonesia.
Untuk merespons data di atas perpustakaan memiliki peran penting dalam menanggulangi masalah tersebut. Perpustakaan efektif menambah pengetahuan. Berbeda dengan di sekolah, di perpustakaan kita dapat menambah wawasan kita dan memilih pustaka sesuai minat yang kita inginkan. 
Greenlagh dan kawan-kawan menyajikan perpustakaan dalam pandangan yang menarik :
“Perpustakaan adalah tempat yang jauh dari gaduh. Instruksi tak tertulis ini tidak dimiliki di tempat lain. Tempat yang demokratis sekaligus tidak mengikat pengguna pada afiliasi partai apapun. Tempat untuk mendapatkan hak untuk mengetahui sesuatu. Tempat dimana anak-anak menikmati sentuhan pertamanya kepada literasi. Tempat yang dapat membuka cakrawala dunia karena koran-koran dan majalah disediakan, novel bercitarasa daerah, lokal dapat dinikmati sambil santai bersama sanak famili, mencari bacaan sesuai umur dan kesukaan. (Greenlagh, Warpole and Landry : 1995).”
Demikianlah perpustakaan, jika ia dapat dimanfaatkan dengan baik, pembangunan yang unggul adalah sebuah keniscayaan.
 Sebenarnya di Indonesia, perpustakaan sudah dipayungi dalam UU no 43 tahun 2007, bahwa:
Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka.”
Di Tasikmalaya sendiri minat membaca masih tergolong rendah dan tingkat kunjungan masyarakat terhadap perpustakaan masih cenderung sedikit. Ini adalah pekerjaan kita semua, apalagi pada tahun ini −tahun 2012− akan diadakan pemilihan kepala daerah. Diharapakan  dengan terpilihnya kepala daerah yang baru semoga dapat menjadikan  peningkatkan minat baca−khususnya pendayagunaan perpustakaan− sebagai salah satu prioritas utama programnya.
Ada beberapa strategi untuk mengembangkan perpustakaan yang bisa dilakukan oleh pemerintah.
Langkah pertama adalah pemerintah harus memberikan pendidikan dan sosialisasi mengenai perpustakaan, bahwa perpustakaan adalah suatu hal yang penting dalam meningkatkan wawasan dan pola pikir. Wawasan dan pola pikir ini tidak hanya sebagai konsumsi sendiri namun diperlukan juga dalam berlangsungnya kegiatan pemerintahan. Karena dengan berkembangnya pola pikir individu, akan menghasilkan keterampilan literasi yang baik. Keterampilan literasi adalah suatu kebutuhan masyarakat agar mampu berpartisipasi dalam memberikan  keputusan sosial secara bertanggung jawab dan menyumbangkan pemikiran kritis yang dibutuhkan dalam stabilisasi pemerintahan.
Langkah kedua, pemerintah diupayakan harus bisa memperluas jangkauan layanan perpustakaan hingga ke tingkat yang terkecil −desa/kelurahan− pemerintahan. Langkah ini untuk memudahkan masyarakat untuk menjangkaunya. Usahakan tempat dapat terjangkau melalui transportasi umum.
Ketiga, pemerintah harus bekerjasama dengan orangtua agar bisa menjadi teladan untuk anak-anaknya. Orangtua diharuskan memiliki minat baca yang baik dan bisa mengingatkan dan mengawasi anak-anaknya agar membiasakan budaya membaca melalui perpustakaan.
Selanjutnya, pemerintah harus meningkatkan pelayanan dan kenyamanan dalam membaca baik dalam pelayanan karyawan maupun sarana dan prasarana. Kita contoh perpustakaan yang pernah dimuat di Republika bernama Perpustakaan Kineruku. Kineruku didesain sedemikian rupa sehingga pengunjungnya serasa berada di rumah sendiri. Pengunjung bisa membaca di sofa-sofa empuk, bahkan di taman belakang dengan pepohonan yang rindang. Di teras ada beberapa balok kayu tipis. Di situ tertulis menu-menu makanan kecil yang ada beserta harganya.Selain sebagai tempat membaca Kineruku dipakai juga dalam event-event seperti dialog, talkshow atau konser musik melankolis sekalipun. Pada intinya dalam membuat perpustakaan kita tidak hanya mendirikan yang biasa saja, namun perlunada inovasi dalam pelayanan dan manajemen yang dapat menjadikan perpustakaan sebagai tempat yang dirindukan dan disenangi oleh banyak orang.
Langkah terakhir yang bisa dijadikan salah satu alternatif strategi adalah pemerintah menyelenggarakan apresiasi kepada kelurahan/kecamatan yang perpustakaannya memiliki indeks pengunjung yang tertinggi. Ini juga berlaku untuk sekolah-sekolah dan perguruan tinggi di Kota Tasikmalaya. Dengan adanya apresiasi ini diharapkan pemerintah di tingkat kelurahan dan kecamatan ataupun sekolah dan perguruan tinggi ikut tergerak hatinya dalam mendayagunakan perpustakaan di daerah atau tempatnya masing-masing.
Saya mengharapkan tulisan ini bisa memotivasi para pembaca dan menjadi saran pribadi dari saya  kepada kepala daerah terpilih Kota Tasikmalaya yang akan datang agar lebih memberikan prioritas kepada peningkatan minat baca di Kota Tasikmalaya dan menjadikan Tasikmalaya sebagai Kota percontohan nasional atas pendayagunaan perpustakaannya.
Saya yakin jika ada keyakinan dan kemauan yang keras, kita bisa mewujudkan program-program di atas, karena harapan itu akan selalu ada.
Bangkitlah Negeriku
Harapan itu masih ada
Berjuanglah Bangsaku
Jalan itu masih terbentang
(Shoutul Harokah- Harapan itu Masih Ada)


Adam Raka Ekasara
XII IPA 1
SMA Al-Muttaqin Tasikmalaya

*Diikutsertakan pada Lomba Esai GERBATAMA UI 2011. Memperoleh predikat juara 1. 

1 komentar:

  1. Sebenarnya ada yang kurang akh dari tulisan ini.. Daftar pustakanya.. Dari data-data yang keliatan di Esai ente, pasti ada referensinya kan? Nah, itu sebaiknya dipasang akh..

    tapi karena memang dari semua peserta kemarin ga ada yang pakai daftar pustaka, jadi poin itu gak mempengaruhi deh.. hehe

    BalasHapus