"Kuntum Khaira Ummatin Ukhrijat Linnas"


Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Februari 2012

Membaca untuk Tasikmalaya, Membaca untuk Indonesia.


Di era abad ke-21 ini dunia dihadapkan kepada suatu sistem besar yang mengubah pola dan sistem kehidupannya. Globalisasi dan perdagangan bebas kini hadir mewarnai kita. Globalisasi berasal dari kata “global” yang maknanya ialah “universal”, jadi globalisasi adalah sebuah proses penduniaan atau peningkatan keterkaitan antar negara sehingga tidak ada lagi sekat atau batas antar negara yang mengakibatkan dunia ini terasa begitu sempit. Dipertegas dengan telah ditandatanganinya perjanjian mengenai perdagangan bebas membuat era ke-21 ini menjadi lebih menarik dari era-era sebelumnya.
Dampak dari pelaksanaan globalisasi adalah sebuah tuntutan kepada setiap negara untuk dapat bersaing memertahankan nama baik negaranya.  Kesalahan di negara kita adalah kegagalan mengupayakan transformasi keilmuan, yang ada sekarang hanyalah hedonisme saja yang muncul dalam masyarakat kita. Peningkatan SDM menjadi suatu keharusan yang seharusnya menjadi motivasi bagi kita semua.
Salah satu komponen yang dapat digunakan untuk melihat kualitas SDM sebuah negara adalah produktivitas warga negaranya dalam membaca, menulis dan berhitung.
Saat ini, minat baca anak Indonesia sudah sangat memprihatinkan. Berdasarkan studi lima tahunan yang dikeluarkan oleh Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) pada tahun 2006, yang melibatkan siswa sekolah dasar (SD), hanya menempatkan Indonesia pada posisi 36 dari 40 negara yang dijadikan sampel penelitian.
Sementara itu, berdasarkan penelitian Human Development Index (HDI) yang dikeluarkan oleh UNDP untuk melek huruf pada 2002 menempatkan Indonesia pada posisi 110 dari 173 negara. Posisi tersebut kemudian turun satu tingkat menjadi 111 di tahun 2009.
Berdasarkan data CSM, yang lebih menyedihkan lagi perbandingan jumlah buku yang dibaca siswa SMA di 13 negara, termasuk Indonesia. Di Amerika Serikat, jumlah buku yang wajib dibaca sebanyak 32 judul buku, Belanda 30 buku, Prancis 30 buku, Jepang 22 buku, Swiss 15 buku, Kanada 13 buku, Rusia 12 buku, Brunei 7 buku, Singapura 6 buku, Thailand 5 buku, dan Indonesia 0 buku.
Kita seharusnya belajar dari negara-negara lain sebut saja Jepang dan Malaysia. Di Jepang ada prinsip teman duduk terbaik adalah buku. Di tempat-tempat umum kebiasan membaca sangat terpelihara, bahkan sepuluh menit sebelum kegiatan belajar mengajar siswa diwajibkan untuk membaca terlebih dahulu. Sejak Restorasi Meiji, Jepang mempunyai tekad mengejar kemajuan kebudayaan barat. Ribuan buku diterjemahkan dari bahasa asing ke bahasa Jepang. Begitu juga produktivitas menulis masyarakatnya perlu diapresiasi, tercatat puluhan juta eksemplar surat kabar terbit setiap hari, ribuan juta eksemplar majalah terbit setiap bulan, dan hampir satu milyar juta eksemplar buku terbit setiap tahun.
Pada tahun 70-an Malaysia mengimpor guru dari Indonesia. Berkat kegigihan dan kesungguhan semua elemen menjadikan Malaysia sebagai negara yang diperhitungkan di dunia bahkan mengalahkan Indonesia.
Untuk merespons data di atas perpustakaan memiliki peran penting dalam menanggulangi masalah tersebut. Perpustakaan efektif menambah pengetahuan. Berbeda dengan di sekolah, di perpustakaan kita dapat menambah wawasan kita dan memilih pustaka sesuai minat yang kita inginkan. 
Greenlagh dan kawan-kawan menyajikan perpustakaan dalam pandangan yang menarik :
“Perpustakaan adalah tempat yang jauh dari gaduh. Instruksi tak tertulis ini tidak dimiliki di tempat lain. Tempat yang demokratis sekaligus tidak mengikat pengguna pada afiliasi partai apapun. Tempat untuk mendapatkan hak untuk mengetahui sesuatu. Tempat dimana anak-anak menikmati sentuhan pertamanya kepada literasi. Tempat yang dapat membuka cakrawala dunia karena koran-koran dan majalah disediakan, novel bercitarasa daerah, lokal dapat dinikmati sambil santai bersama sanak famili, mencari bacaan sesuai umur dan kesukaan. (Greenlagh, Warpole and Landry : 1995).”
Demikianlah perpustakaan, jika ia dapat dimanfaatkan dengan baik, pembangunan yang unggul adalah sebuah keniscayaan.
 Sebenarnya di Indonesia, perpustakaan sudah dipayungi dalam UU no 43 tahun 2007, bahwa:
“Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka.”
Di Tasikmalaya sendiri minat membaca masih tergolong rendah dan tingkat kunjungan masyarakat terhadap perpustakaan masih cenderung sedikit. Ini adalah pekerjaan kita semua, apalagi pada tahun ini −tahun 2012− akan diadakan pemilihan kepala daerah. Diharapakan  dengan terpilihnya kepala daerah yang baru semoga dapat menjadikan  peningkatkan minat baca−khususnya pendayagunaan perpustakaan− sebagai salah satu prioritas utama programnya.
Ada beberapa strategi untuk mengembangkan perpustakaan yang bisa dilakukan oleh pemerintah.
Langkah pertama adalah pemerintah harus memberikan pendidikan dan sosialisasi mengenai perpustakaan, bahwa perpustakaan adalah suatu hal yang penting dalam meningkatkan wawasan dan pola pikir. Wawasan dan pola pikir ini tidak hanya sebagai konsumsi sendiri namun diperlukan juga dalam berlangsungnya kegiatan pemerintahan. Karena dengan berkembangnya pola pikir individu, akan menghasilkan keterampilan literasi yang baik. Keterampilan literasi adalah suatu kebutuhan masyarakat agar mampu berpartisipasi dalam memberikan  keputusan sosial secara bertanggung jawab dan menyumbangkan pemikiran kritis yang dibutuhkan dalam stabilisasi pemerintahan.
Langkah kedua, pemerintah diupayakan harus bisa memperluas jangkauan layanan perpustakaan hingga ke tingkat yang terkecil −desa/kelurahan− pemerintahan. Langkah ini untuk memudahkan masyarakat untuk menjangkaunya. Usahakan tempat dapat terjangkau melalui transportasi umum.
Ketiga, pemerintah harus bekerjasama dengan orangtua agar bisa menjadi teladan untuk anak-anaknya. Orangtua diharuskan memiliki minat baca yang baik dan bisa mengingatkan dan mengawasi anak-anaknya agar membiasakan budaya membaca melalui perpustakaan.
Selanjutnya, pemerintah harus meningkatkan pelayanan dan kenyamanan dalam membaca baik dalam pelayanan karyawan maupun sarana dan prasarana. Kita contoh perpustakaan yang pernah dimuat di Republika bernama Perpustakaan Kineruku. Kineruku didesain sedemikian rupa sehingga pengunjungnya serasa berada di rumah sendiri. Pengunjung bisa membaca di sofa-sofa empuk, bahkan di taman belakang dengan pepohonan yang rindang. Di teras ada beberapa balok kayu tipis. Di situ tertulis menu-menu makanan kecil yang ada beserta harganya.Selain sebagai tempat membaca Kineruku dipakai juga dalam event-event seperti dialog, talkshow atau konser musik melankolis sekalipun. Pada intinya dalam membuat perpustakaan kita tidak hanya mendirikan yang biasa saja, namun perlunada inovasi dalam pelayanan dan manajemen yang dapat menjadikan perpustakaan sebagai tempat yang dirindukan dan disenangi oleh banyak orang.
Langkah terakhir yang bisa dijadikan salah satu alternatif strategi adalah pemerintah menyelenggarakan apresiasi kepada kelurahan/kecamatan yang perpustakaannya memiliki indeks pengunjung yang tertinggi. Ini juga berlaku untuk sekolah-sekolah dan perguruan tinggi di Kota Tasikmalaya. Dengan adanya apresiasi ini diharapkan pemerintah di tingkat kelurahan dan kecamatan ataupun sekolah dan perguruan tinggi ikut tergerak hatinya dalam mendayagunakan perpustakaan di daerah atau tempatnya masing-masing.
Saya mengharapkan tulisan ini bisa memotivasi para pembaca dan menjadi saran pribadi dari saya  kepada kepala daerah terpilih Kota Tasikmalaya yang akan datang agar lebih memberikan prioritas kepada peningkatan minat baca di Kota Tasikmalaya dan menjadikan Tasikmalaya sebagai Kota percontohan nasional atas pendayagunaan perpustakaannya.
Saya yakin jika ada keyakinan dan kemauan yang keras, kita bisa mewujudkan program-program di atas, karena harapan itu akan selalu ada.
Bangkitlah Negeriku
Harapan itu masih ada
Berjuanglah Bangsaku
Jalan itu masih terbentang
(Shoutul Harokah- Harapan itu Masih Ada)


Adam Raka Ekasara
XII IPA 1
SMA Al-Muttaqin Tasikmalaya

*Diikutsertakan pada Lomba Esai GERBATAMA UI 2011. Memperoleh predikat juara 1. 

Senin, 02 Januari 2012

Sekolah untuk Para Pemimpi-N

            “Terdengarlah sebuah kabar yang mengguncangkan langit dan bumi. Kabar itu berasal dari dunia binatang. Menurut cerita, para binatang besar ingin membuat sekolah untuk para binatang kecil. Mereka, para binatang besar itu, berencana menciptakan sebuah sekolah yang di dalamnya akan diajarkan mata pelajaran memanjat, terbang, berlari, berenang, dan menggali.
            Anehnya, mereka tidak dapat mengambil kata sepakat tentang subjek mana yang paling penting. Mereka akhirnya memutuskan agar semua murid mengikuti seluruh mata pelajaran yang diajarkan. Jadi, setiap murid harus mengikuti mata pelajaran memanjat, terbang, berlari, berenang, dan menggali.
            Sekolah pun dibuka dan menerima murid dari pelosok-pelosok hutan. Saat awal-awal dikabarkan bahwa sekolah berjalan lancar. Seluruh murid dan pengajar di sekolah itu menikmati segala kebaruan dan keceriaan. Hingga tibalah pada suatu hari yang mengubah keadaan sekolah itu.
            Tersebutlah salah satu murid bernama Kelinci. Kelinci jelas adalah binatang yang piawai berlari. Ketika mengikuti kelas berenang, Kelinci ini hampir tenggelam. Pengalaman mengikuti kelas berenang ternyata mengguncang batinnya. Lantaran sibuk mengurusi pelajaran berenang, si Kelinci ini pun tak pernah lagi dapat berlari secepat sebelumnya.
            Hal yang serupa dialami oleh siswa yang bernama Elang. Elang, jelas, sangat pandai terbang. Namun, ketika mengikuti kelas menggali, si Elang ini tidak mampu menjalankan tugas-tugas yang diberikan kepadanya. Akhirnya, ia pun harus mengikuti les perbaikan menggali. Les itu ternyata menyita waktunya sehingga ia pun melupakan cara terbang yang sebelumnya sangat dikuasainya.
            Demikianlah, kesulitan demi kesulitan ternyata melanda juga ke diri binatang-bintang lain, seperti bebek, burung pipit, bunglon, ular, dan binatang-binatang kecil lain. Para binatang kecil itu tidak mempunyai kesempatan lagi untuk berprestasi dalam bidang keahlian mereka masing-masing. Ini lantaran mereka dipaksakan melakukan hal-hal yang tidak menghargai sifat alami mereka.
            Setelah kejadian yang dialami para siswa, ada kejadian lain yang memusingkan pengelola sekolah yaitu para binatang besar yang menjadi pengajar, terlalu sering izin dengan alasan mencari makanan untuk anak-anaknya di rumah. Akhirnya sekolah pun tidak kondusif dan terancam bubar.”  
            Dongeng di atas merupakan salah satu kisah yang menarik dalam dunia pendidikan kita untuk kita ambil hikmah dan pelajaran juga latar belakang pembahasan selanjutnya.
Sebelum pergi ke aspek Sekolah Impian baiknya kita telusuri dulu apa itu pengertian sekolah. Sekolah itu merupakan alat sosial. Yang perlu digarisbawahi adalah sekolah merupakan amanat masyarakat yang dibuat dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat. Jika dilihat potensinya sekolah merupakan simbiosis mutualisme yang berpengaruh bagi semua pihak. Perlu diingat juga sekolah—lebih tepatnya pendidikan—merupakan pondasi kuat untuk pembangunan sebuah bangsa.
            Sekolah impian bisa didefinisikan sebagai sekolah yang dijadikan teladan oleh sekolah lain karena memiliki kualitas yang baik dan memiliki output yang berkualitas. Yang menjadi masalah sekarang adalah apa saja kriteria yang harus dimiliki sehingga suatu sekolah dikatakan menjadi sekolah impian. Di sini saya akan mencoba menerangkan gagasan saya mengenai kriteria sekolah impian.
            Hal yang pertama yang harus dimiliki sekolah adalah sekolah tersebut memiliki visi, misi, tujuan jelas. Tidak hanya idealis tapi juga realistis dan dapat dijangkau dengan langkah-langkah strategis. Hal ini penting karena menjadi pedoman awal masyarakat dalam memilih sekolah juga patokan bagi warga sekolah sebagai cita-cita yang akan dicapai.
            Selanjutnya, hal yang kedua yang penting dimiliki, sekolah itu harus memiliki konsep pembentukan karakter yang baik. Karena inilah salah satu konsep terpenting tujuan pendidikan di Indonesia. Pembentukan kepribadian diawali teladan yang baik dari pimpinan sekolah kemudian diturunkan kepada guru dan teladan guru inilah yang menyebarkan teladannya kepada para siswanya. Hal terpenting yang harus terbentuk dari pembentukan karakter ini adalah nilai-nilai kejujuran yang kini mulai terkikis—bahkan hampir punah—yang menyebabkan tidak berkembangnya suatu negara. Salah satu hal yang sering diakukan adalah budaya menyontek yang sering dilakukan oleh sejumlah siswa. Maka tak heranlah jika kini pemerintah—khususnya KPK—kewalahan menangani korupsi di Indonesia lah wong dari kecilnya saja terbiasa nyontek maka perilaku KKN saat usianya sudah dewasa menjadi hal yang tidak aneh. Di sinilah peran sekolah sebagai pembentuk karakter diuji. Kadang-kadang saya sering berpikir dalam hati untuk apa sekolah itu mengadakan yang namanya Masa Orientasi Sekolah—selanjutnya disebut MOS— jika nilai dan manfaat yang dihasilkannya—lebih jauh lagi output kepribadian anak—kurang memuaskan bahkan tidak mengalami peningkatan karena dilaksanakan hanya dalam waktu yang singkat. Saran saya,  untuk meningkatkan kualitas karakter maka yang namanya MOS itu sebaiknya berlangsung selama satu semester. Jadi dalam satu tahun itu sekolah membuat panitia khusus yang tugasnya mengevaluasi dan mengendalikan akhlak para calon siswa sehingga sesuai dengan apa yang menjadi cita-cita sekolah. Dengan demikian jika ada pelanggaran sedikit saja calon siswa dimungkinkan untuk dikeluarkan atau dipindahkan dari sekolahnya. Ini akan mendorong siswa baru untuk berbuat sesuai yang diharapkan. Selanjutnya ketika selesai MOS maka calon siswa dinyatakan sebagai siswa resmi sekolah, maka sekolah harus berkonsentrasi untuk mempertahankan karakter yang dimiliki dengan membuat semacam Buku Harian—tapi bukan berisi catatan pelanggaran yang ditonjolkan­—yaitu buku amalan sehari-hari kegiatan siswa prestatif artinya setiap kegiatan yang bermanfaat bahkan hingga membuang sampah sekalipun patut diberikan poin positif. Nah sekarang konteks penilaian kita coba balik yaitu kalau biasanya ketika poin (-200) siswa terancam dikeluarkan maka seharusnya polanya diganti menjadi poin minimal misalkan (+500) dikatakan berakhlak biasa, {x > (+500)} akhlak terpuji,             {(+200) ≤ x < (+500)} kurang terpuji, ketika mencapai              {x < (+200)} baru para siswa terancam dikeluarkan, kemudian kita pun mesti memberikan penghargaan pada siswa yang memiliki poin tertinggi, maka sudah sepantasnya kalau sepuluh orang terpuji tiap angkatan diberikan penghargaan setiap bulannya. Kalau pola penilaiannya seperti ini saya kira para siswa mendengar kata “peraturan” itu tidak menjadi ketakutan, melainkan menjadi semangat untuk melaksanakan kebaikan dan siswa enjoy untuk menaati peraturan karena orientasinya bukan pada pelanggaran melainkan negasi dari elanggaran tersebut. Itu mungkin salah satu contoh sederhana dari pola pengembangan karakter dan tentu saja masih banyak yang bisa dikembangkan.
            Ketiga, kriteria sekolah impian itu adalah sekolah yang dapat mengembangkan bakat dan minat siswanya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Bakat adalah dasar yang dibawa dari lahir sedangkan Minat adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu. Baik, jika kita kembali kepada konteks dongeng di awal, Kancil dan Elang bukannya tidak bisa belajar atau bodoh, melainkan bahwa setiap individu itu memiliki pendekatan yang berbeda-beda. Maka di sini diperlukan peran guru dalam mengetahui potensi terbesar murid-muridnya. Thomas Armstrong dalam Teori Kecerdasan Majemuk menyebutkan bahwa ada delapan strategi pengajaran diantaranya pengajaran untuk kecerdasan linguistik, pengajaran untuk kecerdasan matematis-logis, pengajaran untuk kecerdasan spasial, pengajaran untuk kecerdasan kinestetis, pengajaran untuk kecerdasan musik, pengajaran untuk kecerdasan interpersonal, pengajaran untuk kecerdasan intrapersonal, pengajaran untuk kecerdasan naturalis.(Untuk lebih lanjut silahkan baca Sekolah Para Juara; Menerapkan Multiple Intelligences Di Dunia Pendidikan karangan Thomas Armstrong terbitan Kaifa tahun 2003) Masing-masing strategi pengajaran memiliki konsep-konsep tersendiri dalam pengajarannya. Oleh karena itu seorang guru harus menguasai dan mengetahui kecerdasan dominan dari setiap anak didiknya. Selain itu jika ada minat siswa dalam suatu hal maka sekolah impian senantiasa menyalurkannya dan disinilah mungkin fungsi trilogi pendidikan ala Ki Hajar Dewantara bisa digunakan diantaranya Ing Ngarso Sing Tuladha, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani.
            Keempat, kriteria sekolah impian menurut saya adalah sekolah yang tidak berorientasi pada nilai. Tersambung dari ide nomor satu bahwa nilai inilah yang membuat siswa-siswa kita ini memiliki sikap curang, suka menyontek, menghalalkan segala cara, dan pribadi yang mudah stress apabila keinginannya tidak tercapai. Ini PR kita bersama,dan saya berpendapat nilai memang bukanlah segala-galanya, tapi dengan  kondisi sekarang ini segala-segalanya adalah nilai. Kita harus kembali kepada substansi awal bahwa yang kita cari dalam dunia pendidikan ini adalah keterampilan dan kompetensi yang akan digunakan di masa kini dan masa yang akan datang. Salah satu hal yang saya pikirkan adalah konsep pendidikan sekolah dasar dan menengah kita samakan saja dengan konsep di perguruan tinggi, artinya diberlakukan SKS dan nilai diberlakukan dengan huruf. Ini mungkin bisa dijadikan solusi terbaik untuk akhir-akhir ini, dan mungkin Ujian Nasional itu perlu dikaji kembali keberadaannya.
            Saya sepakat dengan kutipan guru saya yang selalu saya ingat bahwa “Ujian itu bukanlah segalanya karena ketika kita tidak lulus  UN masih ada paket C dan meski lulus UN pun tidak akan menjamin kita akan sukses di kemudian hari.” Ada lanjutannya lagi lho “ Ikut UN juga tidak wajib ini kan?” Kalu dilihat atau didengar memang terasa aneh tapi kalau dihayati memang ada benarnya juga bahwa kita tidak mesti harus selesai tepat waktu, permasalahannya ketika kita sudah dinyatakan lulus, apakah kita memiliki kompetensi yang cukup untuk melanjutkan ke perguruan tinggi atau bahkan bekerja dalam suatu instansi? Yah mungkin ini bisa menjadi renungan kita bersama yang pasti sekolah impian menurut saya tidak harus selalu berorientasi kepada nilai.
            Kelima, kriteria sekolah impian adalah sekolah yang biayanya dapat terjangkau oleh siswa-siswanya. Saya sangat mengapresiasi kepada sebuah perguruan tinggi negeri di ibukota yang memberlakukan Biaya Operasonal Pendidikan Berkeadilan(selanjutnya disebut BOP Berkeadilan). Dalam BOP Berkeadilan terjadi saling mengerti dan menghargai artinya ada subsidi silang diantara peserta didik. Bahkan dengan BOP Berkeadilan ini siswa yang dalam keadaannya dalam kondisi kurang beruntung dimungkinkan mendapat beasiswa. Ada baiknya kebijakan ini ditiru oleh para sekolah-sekolah yang ada.
            Selanjutnya kriteria keenam, sebuah sekolah impian  harus dapat menjamin kesejahteraan gurunya. Jika melihat kembali dongeng di awal kita bisa mencermati bahwa pengelola sekolah merasa kebingungan karena para binatang besar yang menjadi gurunya banyak yang izin karena akan mencari makanan untuk keluarganya. Jadi disini kita harus memiliki sikap toleransi dan saling mengerti  di satu sisi kita harus memperhatikan keadilan dalam penentuan iuran bagi siswa tapi di sisi lain kita juga harus memikirkan kesejahteraan guru. Mengapa guru harus terjamin kesejahteraanya? Ini karena fokus perhatian seorang guru tidak hanya kepada siswa atau anak didiknya di sekolah, mereka masih harus memikirkan kehidupan pribadi dan keluarganya. Artinya jika kesejahteraan terjamin maka fokus guru untuk mengajar pun bisa terjamin dan ini sangat berakibat kepada output anak didik.
            Terakhir, kriteria yang tidak bisa dipungkiri bahwa sebuah sekolah impian sudah sewajarnya untuk memiliki sarana dan prasarana yang lengkap. Kriteria ketujuh ini menjadi pelengkap enam kriteria sebelumnya sehingga membuat siswa nyaman dan dapat mengeksplorasi segala hal yang berkaitan dengan pendidikan dengan mudah.
            Tujuh kriteria di atas tidak akan tercapai tanpa ada kerjasama dari semua pihak yang bersangkutan. Tak dapat dipungkiri juga bahwa untuk menemukan sekolah impian itu sangat sulit dan hampir tidak ada, tapi ini bukan berarti kita tidak bisa membangunnya, karena kita itu adalah makhluk Allah yang senantiasa berpikir apalagi niat kita adalah niat yang tulus maka selalu ingat bahwa Allah berfirman dalam Quran:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” (QS. Muhammad ayat 7)
“Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu” (QS. Yasin ayat 82)       
            Saya memberi judul di atas adalah “Sekolah Impian untuk Para Pemimpi-N” karena sesungguhnya apabila sekolah impian dengan kriteria di atas terpenuhi saya yakin sekolah tersebut dapat menghasilkan output yang baik yaitu para pemimpi-pemimpi yang memiliki huruf N di belakangnya. Semua orang di dunia ini terlahir sebagai dan untuk menjadi pemimpin dan secara kebetulan dalam perbendaharaan bahasa Indonesia ada sebuah kecocokan dan kedekatan antara Pemimpi dan Pemimpin ,   dan memang pemimpin itu berawal dari pemimpi yang memiliki huruf N di belakangnya dimana N itu adalah sebuah kerja keras dan perjuangan yang dapat merubah mimpi menjadi kenyataan.
            Barangkali kriteria-kriteria di atas belum terpenuhi di sekolah-sekolah teman-teman, tapi kita tetap mesti bersyukur, kita telah diberikan kekuatan oleh Allah untuk bersekolah dan tentu para pengelola sekolah juga tetap berusaha mengembangkan sekolahnya menuju ke arah yang lebih baik. Intinya kita harus bersyukur dengan sekolah kita sekarang, dan tetap berusaha sekuat tenaga mengembangkan, menjaga dan mengharumkan nama baik sekolah kita.
"…boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui." (QS: Al Baqarah: 216)
                                                                                                    Tasikmalaya, 20 Desember 2011

Dipersembahkan untuk kedua orang tua kandungku, Agung Asriadi dan Ika Sartika.
Untuk almamaterku tercinta.
Untuk para guru inspiratorku Pak In-in Kadarsolihin, Pak Agus Sulistyo, Pak Asep Solihin, Bu Maya Mulyani, Bu Yayu Faturrakhman, Pak Marno Sumarno dan guru super lainnya yang tak bisa disebutkan satu persatu.
Untuk para teman sekelasku di XII IPA 1, Ibu KM (Cindy C), Achmad, Achel, Agus, Anggi, Byas, Cecep, Cherya, Citra, Dini, Farah, Husni, Igar,  Inayatul, Jamilah, Jihan, Lika, Nisvi, Rafdy, Rahmi, Rini, Salman, Sri Ayu, Tia, Yuli.


*Diikutsertakan dalam Lomba Esai tingkat SMA Al-Muttaqin saat pekan kreativitas sekolah. Memperoleh predikat juara 1

Jumat, 09 September 2011

Andai Aku Jadi Presiden Indonesia

Selamat pagi Indonesia,
Seekor burung mungil mengangguk
Dan menyanyi kecil buatmu
Aku pun sudah selesai, tinggal mengenakan sepatu
Dan kemudian pergi untuk mewujudkan setiaku padamu


Ada banyak syair, puisi bahkan lagu yang dapat menerjemahkan Indonesia. Demikianlah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dan kini saya sedang bermimpi ‘Andai Aku Jadi Presiden”, agak berani memang , tapi ini semata atas rasa kecintaan saya pada negara yang sudah sekitar tujuh belas tahun saya diami ini.
Sebelumnya saya ucapkan terimakasih kepada Godfather juga para Pahlawan Nasional yang dengan semangat dan darahnya telah memperjuangkan nama Indonesia;Kepada para Presiden dan Wakil Presiden terdahulu yang dengan ide dan gagasannya telah membuat Indonesia lebih berwarna dengan kebijakan-kebijakan yang semoga senantiasa diniatkan untuk memajukan tanah air; Juga kepada para patriot bangsa yang tak bisa disebutkan satu-persatu namanya. Salam Indonesia.
Indonesia lahir dengan perjuangan besar. Indonesia adalah negara yang mengambil sendiri hak kemerdekaannya  dari penjajah. Hampir tak bisa dibayangkan jika kitalah yang ada saat itu, namun takdir jualah yang menghantarkan kita masuk ke zaman yang berbeda, zaman yang luar biasa rumit, lebih rumit dari zaman-zaman sebelumnya.
Tak bisa dipungkiri, Indonesia telah banyak makan asin garam kehidupan. Dimulai dari proklamasi, kepemimpinan Soekarno, Orde Baru nya Soeharto hingga era kepemimpinan SBY yang dipilih langsung oleh rakyat melalui pemilu. Juga tak bisa disanggah, mereka semua adalah pemimpin yang memiliki karakteristik tersendiri. Yang dengan karakteristiknya Indonesia memiliki kelebihan dan kekurangan.
Mari kita lanjutkan ke pokok pembicaraan.”Andai Aku Jadi Presiden”.
“Apa kontribusi yang akan Anda berikan ?” mungkin itu yang akan banyak dilontarkan oleh kalangan politik, jurnalis, akademisi dan yang lainnya.
Negara Indonesia sebentar lagi akan dihadapkan pada Pemilu Presiden pada tahun 2014, tentu saja kini para nama yang berniat mencalonkan atau diusung oleh parpol sedang gencar menyiapkan amunisinya.
“Andai Aku Jadi Presiden”, saya tidak akan mencalonkan diri sebelum ada yang mengusung  , karena ternyata seorang yang ambisius itu akan sulit untuk meluruskan niatnya. Saya ingin jika saya benar jadi Presiden, niat saya benar-benar tulus ingin memajukan bangsa ini, tidak untuk yang lain.
“Andai Aku Jadi Presiden”, saya ingin menaikan grade Indonesia dari “negara berkembang” menjadi “negara maju” . Tentu itu bukan hal yang mudah, perlu beberapa action juga kerja keras oleh semua elemen untuk mewujudkannya. Juga harus ada pembenahan dari sistem , birokrasi, pengelolaan kebijakan, dan masih banyak lagi.
Langkah pertama yang akan saya lakukan adalah merevitalisasi kualitas hukum di Indonesia. Penegak hukum harus memiliki ketegasan dalam melakukan tindakan, juga harus ada kerjasama yang baik antarlembaga. Juga penguatan semangat antikorupsi dengan memformat ulang organisasi KPK sebagai lembaga antikorupsi. Diantaranya dalam segi manajemen, kualitas SDM  juga penekanan peran masyarakat sebagai partner utama KPK.
Selanjutnya adalah efektifitas pilar pendidikan. Pendidikan gratis harus dilanjutkan kalau bisa akan diusahakan hingga ke tingkat perguruan tinggi. Di lingkungan pendidikan pula harus dicanangkan unsur pembentukan karakter diantaranya jujur dan disiplin. Kemudian perlu ada standarisasi yang jelas dalam segi pengendalian manajemen dan mutu pendidikan. Kalau perlu akreditasi itu diadakan satu tahun sekali, agar sasaran dituju akan lebih tercapai. Selain itu kualitas dan kesejahteraan guru juga harus selalu ditinjau dan ditingkatkan melalui program yang sudah dilaksanakan seperti sertifikasi guru tetapi format pengelolaan dan evaluasinya harus ditingkatkan.
Langkah ketiga adalah memberdayakan ekonomi rakyat dengan pemberdayaan koperasi dan Usaha kecil dan menengah dengan langkah-langkah yang bisa dilakukan diantaranya pemberdayaan usaha skala mikro untuk meningkatkan pendapatan masyarakat melalui kegiatan ekonomi di sektor informal; Pelatihan untuk peningkatan keterampilan dan penumbuhkembangan jiwa kewirausahaan dalam masyarakat; Penciptaan iklim usaha yang sehat dan dukungan dalam segi permodalan dari pemerintah; Peningkatan kualitas dan layanan koperasi.
Langkah keempat adalah upaya swasembada pangan dengan cara revitalisasi pertanian, perikanan dan kehutanan juga dengan menekan nilai impor dari negara lain. Langkah-langkahnya diantara lain Peningkatan produksi, produktivitas dan mutu hasil pertanian melalui penyuluhan dan pendidikan bagi petani juga penelitian yang dilakukan para ahli pertanian; Pemberdayaan organisasi petani maupun nelayan sebagai forum diskusi atau sarana berbagi informasi; Peningkatan mutu SDM dalam pengelolaan hutan.
Dan terakhir adalah peningkatan pemberdayaan energi alternatif seperti biogas, tenaga surya untuk menghemat SDA dan alternatif pemeliharaan energi.

Adam Raka Ekasara
SMA Al-Muttaqin Tasikmalaya
Kota Tasikmalaya
2011

*Diajukan sebagai syarat seleksi mengikuti Indonesian Student Leadership Camp 2011

Senin, 20 Juni 2011

Penanaman Semangat Antikorupsi di Lingkungan Masyarakat Indonesia

Ada yang menarik ketika berbicara korupsi di Indonesia, Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia tahun 2008 menurut hasil survei Transparansi Internasional (TI) adalah 2,6; menempatkan Indonesia sebagai negara terkorup di dunia. Penilaian TI tidak salah, karena perilaku korupsi telah merebak di segala segi kehidupan masyarakat Indonesia, dan dilakukan oleh seluruh unsur masyarakat.

Korupsi yang berasal dari kata corruptio atau corruptus secara harfiah bermakna perilaku berbohong, tidak jujur, bejat tidak bermoral, dapat disuap, mencuri dan sebagainya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bermakna penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (perusahaan dsb) untuk kepentingan pribadi atau orang lain. Oleh karena itu korupsi selain merupakan tindakan pidana, dari sudut sosiologi adalah suatu perbuatan yang menyimpang dari nilai yang dianggap wajar.


Dijelaskan oleh Djulianto dalam buku A to Z Korupsi karya Ulul Albab (2009 : xi)
Ada beberapa sistem yang mempengaruhi tindakan korupsi di Indonesia. Misalnya a) sistem hukum, pembangunan hukum sangat sektoral yang justru merubah praktek mafia peradilan; b) sistem politik, lebih menonjolkan politik praktis yang lebih mengutamakan upaya memperoleh kekuasaan; c) sistem administrasi kepegawaian, yang masih bernuansa kolusi dan nepotisme dalam rekruitmen dan penetapan pegawai; d) sistem sosial, yang tidak dapat membedakan hak milik pribadi dan publik sehingga banyak aset publik yang digunakan oleh pribadi; e) sistem pengawasan, tiadanya sistem yang memadai dan hampir tidak ada sanksi terhadap para pelanggar.


Berdasarkan uraian tersebut ada beberapa hal yang harus dikaji dan diteliti model penyelesaiannya. Sistem pertama yang harus dikaji yaitu sistem hukum. Mengapa sistem hukum? Menurut hemat saya jika hukumnya tidak berfungsi maka kemungkinan korupsi di Indonesia akan semakin tinggi. Oleh karena itu, langkah yang harus dilakukan di sini adalah perlunya perhatian dari semua sektor; baik eksekutif, legislatif dan yudikatif. Ketiga sektor ini perlu mengadakan musyawarah untuk memberantas mafia peradilan diantaranya menyusun undang-undang , pengawasan dan pengendalian hukum.

Dalam pembicaraan mengenai sistem politik, harus dikuatkan di hati masing-masing pelaksana bahwa jabatan apapun dan di manapun levelnya itu adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan di dunia dan di akhirat. Amanah dalam arti sempit adalah jujur dan lurus. Dalam arti luas, amanah berarti menyimpan atau memegang sesuatu untuk diserahkan kepada orang yang berhak. Seorang kepala desa, camat, walikota, gubernur dan presiden adalah pemegang amanah untuk negara dan rakyat. Mereka harus menyerahkan amanah kepada yang berhak, yaitu negara dan rakyat.
Sistem yang terakhir yaitu sistem pengawasan. Kesalahan yang terjadi di Indonesia adalah pelaksanaan korupsi ini terlalu lama dibiarkan, ketika korupsi telah berada di stadium empat, barulah pemerintah membuat kebijakan. Ada beberapa organisasi yang sudah dibentuk seperti KPKKN, KPPU, Komisi OMBUSDMAN, TGPTPK hingga KPK yang masih ada sampai sekarang.

Keberadaan lembaga pengawasan dalam korupsi menjadi sangat penting, mengingat kasus korupsi yang begitu merebak akhir-akhir ini. Selain program yang efektif, diperlukan juga manajemen yang baik. Jika dilihat pengalaman dari negara-negara yang telah sukses dalam pemberantasan korupsi seperti Hongkong, lembaga antikorupsi menjadi pilar utamanya. Hongkong memiliki lembaga yang bernama Independent Commision Against Corruption (ICAC). Organisasinya berbentuk komisi. Dipimpin oleh komisioner dan dibantu oleh tiga kepala departemen yang meliputi Departemen Pencegahan Korupsi, Departemen Operasi dan Departemen Hubungan Masyarakat.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan ICAC dipandang sukses diantaranya 1) Adanya kesungguhan dari pemerintah untuk memberantas korupsi, baik melalui cara represif maupun preventif dan pendidikan kepada masyarakat; 2) Terjaminnya integritas dan kejujuran hakim pada waktu ICAC dilahirkan; 3) Anggaran yang besar; 4) Diikutsertakannya masyarakat dalam pemberantasan korupsi. Manajemen ICAC dapat dijadikan rujukan bagi lembaga antikorupsi di Indonesia.

Saya meyakini jika ketiga sistem tadi dapat dibenahi maka dapat dipastikan dua sistem yang lain dapat dibenahi. Intinya dalam pemberantasan korupsi diperlukan dukungan dari semua pihak. Dengan terwujudnya Indonesia yang bersih dari korupsi, menjadi salah satu langkah untuk memajukan Indonesia ke arah yang lebih baik.

Jumat, 11 Februari 2011

Surat Untuk Walikota


Tasikmalaya,21 Januari 2011



Walikota Tasikmalaya,
Drs.H.Syarif Hidayat, M.Si
Di Tempat



Assalamualaikum.Wr.Wb
Apa kabar hati?Masihkah ia sebening embun menunduk tawadhu di pucuk daun?Apa kabar iman?Masihkah ia seperti bulan yang menerangi kehidupan di atas kegelapan?Apa kabar pak walikota?Semoga senantiasa ada dalam lindungan Allah SWT.

Bersama dengan surat ini saya ingin mencurahkan isi hati saya dengan tema “Meneropong Pemimpin Masa Depan” .Kita ini berada di Negara yang memiliki penduduk ke 4 terbesar di dunia.Memiliki sumber daya alam yang melimpah.Malah dalam lagu “Orang bilang tanah kita tanah surga tongkat kayu dan batu jadi tanaman”.Begitulah kiranya gambaran mengenai Negara yang kita namakan”Indonesia” ini.

Negara yang baik adalah Negara yang mempunyai pemumpun yang baik.Tentunya ada beberapa hal yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin.Meskipun ada banyak hal yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin saya kira yang harus diutamakan ialah satu yaitu “adil”.Tak banyak yang saya tahu tentang pengertian dari adil.Tetapi tersirat dalam pikiran ini bahwa seorang yang adil,dalam mengambil keputusan akan mempertimbangkan banyak variable,satu diantaranya adalah kepentingan orang kecil.Hal ini memang kurang dimiliki oleh pemimpin pada umumnya.Dan yang pasti seorang yang adil selalu bijaksana dalam hal apapun.

Selanjutnya pemimpin masa depan itu harus cerdas dan berwawasan luas.Dan satu yang harus diingat orang cerdas itu bukan orang yang memiliki banyak gelar,melainkan merka selalu memiliki banyak cara dan ide dalam menyelesaikan berbagai masalah yang ada.

Dan yang pasti seorang pemimpin harus bisa memimpin ummatnya.Memiliki integritas yang kuat, kepribadian yang konsisten dan memimpin suara hati berlandaskan suara hati yang fitrah.

Menjadi pemimpin itu tidak mudah,mereka harus memiliki tujuan yang jelas dan saya kira tujuan yang harus dimiliki dapat diwakili oleh satu kata yaitu “SEJAHTERA”.Sejahtera dapat diartikan sebagai keadaan yang baik, keadaan simana semiua rakyat ada dalam keadaan yang damai.Saya yakin dengan penghayatan dan perhatian yang baik tentang arti sebuah kesejahteraan,minimal kepemimpinan bisa terarah dan tertata rapi.

Dan yang juga perlu diingat,pemimpin yang baik juga harus dapat mendayagunakan peran generasi muda.Karena bagaimanapun merekalah yang akan meneruskan tonggak kepemimpinan di masa selanjutnya.
Sekecil apapun ruang lingkupmya pemimpin yang baik harus dapat mencontoh kepemimpinan Nabi Muhammad SAW.Mari kita kembalikan citra kepemimpinan yang dapat mengubah tatanan peradaban menjadi masyarakat madani seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW.Dan itu tidak mudah, perlu pengorbanan.Seorang ustadz mengatakan “Memang seperti itulah dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu..Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yg kau cintai.”.Intinya siapapun pemimpinnya jadilah Pemimpin yang Amanah.

Demikian curahan hati yang bisa saya ungkapkan,dan mungkin sangat sederhana.Mohon maaf bila ada kata yang tak berkenan.Terimakasih atas perhatiannya.

Wassalamualaikum.Wr.Wb




Rakyatmu,


Adam Raka Ekasara


*Diikutsertakan dalam Lomba Menulis Surat Untuk Walikota. mendapat predikat juara 1.

Jumat, 05 Maret 2010

Menanti Mutiara OSN dari Kota Tasikmalaya

Kementrian pendidikan nasional terus memberikan angin segar terhadap prestasi anak bangsa yang menjuarai OSN (Olimpiade Sains Nasional). Tak tanggung-tanggung, pemerintah pusat memberikan jaminan bagi siswa peraih emas olmpiade dipentas dunia, melanjutkan kuliah dibiayai Negara hingga program doctoral.

Untuk tahun 2010, pelaksanaan OSN semakin dekat. Namun sayangnya, prestasi OSN untuk Jawa Barat masih kalah jauh dengan daerah lainnya. Geliat OSN belum terasakan secara penuh.

Bagaimana Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya mempersiapkannya ?. Berikut wawancara KIR IQRA SMA Al Muttaqin dengan Kepala Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya, Bapak Drs. H Endang Suherman ,M.Pd. disela-sela acara lomba “Sapta Lomba PAI SD” se-Kota Tasikmalaya , yang dilaksanakan dilingkungan SMP-SMA Al-Muttaqin

Bagaimana Pihak Dinas Pendidikan Menyoroti masalah OSN ?
Kami memberikan sepenuhnya pada pihak sekolah, dilain sisi kami juga mendorong dan selalu memberikan motivasi pada pihak sekolah

Bagaimana Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya menyukseskan OSN?
Pembinaan OSN diserahkan pada pihak sekolah, namun pemerintah Kota Tasikmalaya pernah mengupayakan untuk melakukan kerjasama dengan salah satu perguruan tinggi negeri ternama., event OSN juga sudah menjadi program Pemerintah KotaTasikmalaya. Kami memfasilitasi siswa dengan adanya klub-klub pelajar dan even yang mendukun seperti LPIR.

Bagaimana pendapat bapak tentang merosotnya prestasi OSN Jawa Barat, khususnya Kota Tasik pada akhir-akhir ini?
Kembali lagi pada pembinaan sekolah masing-masning. Daerah lain juga melakukan pembinaan yang serupa namun mungkin lebih .intensif

Kapan Penyelenggaran OSN ?
Untuk penyelenggaraan OSN menunggu kepastian dari pusat dan kami belum mendapatkan berita.

Adakah jaminan yang akan dinas beri bagi juara?
Untuk jaminan, jangan khawatir karena pemerintah pusat akan memberikan beasiswa misalnya beasiswa berupa biaya hidup yang kami berikan kepada saudara Ade Ilyas yang pernah mendapatkan medali emas OSN, dan sekarang sedang berkuliah di UI.

Pemerintah akan membantu memfasilitasi kemajuan siswa Tasikmalaya yang menjuarai OSN.

Apa Pesan kepala dinas untuk para siswa?
Kepala Dinas memberikan pesan kepada para siswa dan siswi di Kota Tasikmalaya untuk lebih giat lagi dalam belajar, apalagi pada tahun 2012 salah satu program pemerintah adalah meningkatkan Sumber Daya Manusia yang berkualitas. OSN adalah salah satu jalan meningkatkan kualitas SDM. Semoga dari Tasikmalaya terlahir juara olimpiade sains tingkat nasional bahkan dunia. (M Arya, Adam Raka KIR IQRA-QSMART SMA Al Muttaqin)